Karyawan Idaman Pak Bos
Malam sudah larut ketika pintu minimarket akhirnya dikunci. Lampu neon di atas kasir masih menyala redup, menerangi tumpukan uang kertas yang kami hitung berdua.
Bos—pak Habi, pria paruh baya dengan perut buncit yang selalu menekan kancing kemejanya—sudah pulang sejak tadi.
Seperti biasa, dia hanya tersenyum lebar ke Toni sebelum pergi, menepuk pundaknya pelan. Ke aku? Hanya tatapan dingin dan omelan soal stok yang kurang rapi.
"Enak ya lu, Ton. Gak pernah dimarahin," kataku sambil menyandarkan punggung ke kursi. Aku melongok ke arahnya.
Toni sudah melepas seragamnya. Dia hanya pakai sempak abu ketat yang membalut tubuhnya yang ramping tapi berisi.
Otot perutnya terlihat samar di bawah cahaya lampu. Dia duduk santai, kaki terbuka sedikit, tangan memegang botol air mineral.
"Semua gak seenak yang lu pikir," jawabnya pelan, suaranya datar.
Aku mendengus.
"Coba lu jadi gue. Dikit-dikit dimarahi. Mungkin karena gue gak seganteng lu."
Toni diam sebentar. Lalu dia menatapku lama.
"Coba lu juga jadi gue. Pas libur disuruh ke rumahnya. Badan lu digrepe-grepe. Mau?"
Aku terkejut. "Apa?"
Toni menunduk. Suaranya hampir hilang di antara deru AC. Dia cerita semuanya. Bagaimana pak Habi memanggilnya ke rumah besar itu saat istri sedang ke luar kota.
Di ruang tamu yang sepi, Toni disuruh berlutut. Mulutnya dipakai. Lalu di kamar, dia disuruh menyetubuhi bosnya yang buncit itu.
Kadang pak Habi yang menindihnya, mendesah-desah sambil meremas tubuh Toni kasar.
"Kok lu mau?" tanyaku, suaraku bergetar.
"Emang gue bisa nolak?" Toni tersenyum pahit. "Nyari kerja susah sekarang. Kalau gue dipecat, lu juga bakal ikut keluar. Gue selalu minta ke dia supaya lu tetap dipertahankan. Gue gak bisa bayangin kerja di sini tanpa lu."
Aku merasa dunia berputar. Selama ini aku iri karena bos selalu baik ke Toni. Ternyata itu harga yang harus dibayar. Harga yang mahal sekali.
Aku berdiri, mendekat, lalu memeluknya erat dari samping. Tubuh Toni hangat, kulitnya licin karena keringat malam.
"Sorry ya, Ton..."
"Gak perlu gitu," bisiknya. Tangan Toni memeluk pinggangku balik. "Gue juga masih butuh lu di sini."
Kami membereskan semuanya dalam diam. Berganti baju, mematikan lampu, lalu pulang ke kos yang hanya lima menit dari minimarket.
Kami satu kos, tapi kamar berbeda. Malam ini, saat kami sudah sampai di depan pintu, Toni menahan tanganku.
"Tidur di kamar gue malam ini, ya?" pintanya pelan. Matanya lelah tapi ada kerinduan di sana.
Aku mengangguk.
Di kamar kecilnya yang hanya ada kasur tipis dan kipas angin, kami berbaring berdampingan. Toni mendekat, kepalanya bersandar di dadaku.
Aku memeluknya erat, tanganku mengusap punggungnya pelan. Napasnya terasa hangat di leherku.
"Gue capek," gumamnya.
"Aku tahu," jawabku sambil mencium puncak kepalanya. "Mulai sekarang, kita hadapi bareng."
Toni mengangguk kecil. Tangannya merayap ke pinggangku, mencari kehangatan. Malam itu, di antara dinding kos yang tipis, kami hanya saling peluk.
Bukan nafsu, tapi pelukan dua orang yang sama-sama terluka, tapi masih punya satu sama lain.
Di luar, hujan mulai turun pelan. Besok pagi kami tetap harus buka toko. Tapi setidaknya, malam ini, Toni tidak sendirian.
