Selamat Datang di Nara Kata Media

Sajian Sastra, Budaya, dan Pemikiran Kritis

Widget HTML #1

Cerita Akhir Sekolah


Di aplikasi kami sudah lama saling chat. Malam-malam kami bicara hal-hal ringan, kadang flirt, kadang curhat. 

Tapi di sekolah, kami pura-pura tak saling kenal. Mungkin gengsi. Aku tak mau kelihatan terlalu antusias, dia juga sepertinya sama. 

Dia anak basket yang selalu jadi pusat perhatian. Tubuhnya berotot, bahu lebar, kulit kecokelatan karena sering latihan di lapangan. Para cewek berbisik-bisik setiap dia lewat. Aku hanya bisa melihat dari jauh, menyimpan rasa yang tak pernah kukatakan.

Hari kelulusan tiba. Suasana ramai, foto-foto bersama, pelukan teman. Aku sedang berdiri di pinggir lapangan ketika dia mendekat. Langkahnya agak ragu, senyumnya malu-malu.

“Eh, lama nggak ngobrol ya,” katanya pelan.

Aku mengangguk, berusaha tenang meski jantung berdegup kencang. 

“Iya. Sibuk persiapan kelulusan.”

Kami basa-basi. Tanya kuliah ke mana. Aku bilang jurusan teknik di kota sebelah. Dia teknik informatika di kampus lain. Jaraknya cukup jauh. Kami sadar, setelah ini kemungkinan besar tak akan bertemu lagi.

Obrolan hampir selesai ketika dia menunduk sebentar, lalu berkata pelan, “Mau ke kosanku? Cuma... cuddle. Nggak lebih.”

Aku terdiam sesaat. Wajahnya merah, tapi matanya penuh harap. Dia tampan sekali dari dekat. Otot lengannya terlihat jelas di balik kaus ketat. Aku mengiyakan.

Kosannya sederhana, kamar kecil dengan AC yang dingin. Kami duduk di kasur. Awalnya canggung. Lalu dia mendekat, memelukku dari samping. Tubuhnya hangat, keras karena otot, tapi pelukannya lembut. 

Aku menyandarkan kepala di dadanya. Bau sabun dan keringat laki-laki samar tercium.

Kami berbaring. Tangannya mengusap punggungku pelan, naik turun. Aku merasakan detak jantungnya yang cepat. Tak ada kata-kata. Hanya napas yang saling bercampur. 

Tangan besarnya memeluk pinggangku erat, seolah tak ingin melepaskan. Aku menyusupkan wajah ke lehernya, merasakan kehangatan kulitnya. Sesekali jari kami bertautan. Cuddle itu terasa lama, nyaman, penuh ketegangan yang manis.

Setelah hampir satu jam, kami bangun. Dia membuat teh hangat di dispenser. Kami duduk bersisian di tepi kasur, memegang gelas.

“Sebenarnya dari dulu aku suka ngobrol sama kamu di app,” katanya sambil tersenyum tipis. “Tapi di sekolah... entahlah, takut orang tahu.”

Aku tertawa kecil. “Aku juga gitu. Kamu kan idola cewek-cewek.”

Dia menggeleng. “Mereka cuma lihat yang kelihatan. Kamu yang tahu aku yang sebenarnya.”

Kami ngobrol tentang rencana masa depan, ketakutan kuliah baru, dan sedikit tentang perasaan yang selama ini kami pendam. Tehnya sudah dingin saat kami selesai bicara.

Sebelum aku pulang, dia memelukku sekali lagi di depan pintu. Pelukan yang lebih erat dari sebelumnya.

“Mungkin kita beda kota, beda kampus,” bisiknya. “Tapi kalau kamu mau, kita bisa lanjut chat. Atau... ketemu lagi suatu saat.”

Aku mengangguk. “Aku mau.”

Saat berjalan pulang, senyum tak lepas dari bibirku. Kami mungkin tak akan bertemu setiap hari lagi. Tapi hari ini, di kamar kos kecil itu, kami sudah saling menemukan sesuatu yang selama ini kami sembunyikan.