Setelah Resign dari Kantor
Aku datang ke rumahnya pada siang yang cenderung malas. Matahari menggantung tepat di atas pohon pisang dan daun pepaya di halaman rumahnya bergerak pelan tertiup angin.
Dari luar, rumah itu tidak tampak seperti rumah seorang mantan pegawai kantoran. Terlalu banyak pohon, terlalu banyak suara ayam, dan terlalu slow living.
Dulu ia bekerja di ruangan berpendingin udara. Pakai sepatu mengilap, berangkat pagi, pulang sore, sesekali mengeluh soal target dan rapat yang terasa lebih panjang daripada hari itu sendiri.
Lalu suatu hari ia resign.
"Aku capek menghitung hari libur," katanya sambil tertawa.
Aku pernah mengira ia sedang mengalami semacam krisis usia dewasa. Sebab setelah keluar dari pekerjaan, hal pertama yang ia lakukan justru terdengar aneh. Ia menggulung map plastik berisi ijazah dan menaruhnya ke lemari.
"Bukan dibuang," katanya waktu itu. "Cuma ditaruh."
Warisan rumah dan tanah yang cukup luas dari orang tuanya mulai ia manfaatkan. Di belakang rumah, ia membangun kandang-kandang panjang. Sebagian menggunakan bambu, sebagian lagi memakai rangka besi ringan dan kawat.
Ia ternyata memilih beternak itik Manila.
"Waktu awal malah lebih capek daripada kerja kantor," katanya.
Ia menunjukkan kandangnya padaku. Lantainya dibuat agak miring supaya air dan kotoran lebih mudah mengalir.
Ada tempat pakan, tempat minum, dan area yang cukup terbuka agar itik tetap mendapatkan sinar matahari.
Persiapan kandang, katanya, penting sekali. Kandang terlalu lembap membuat penyakit mudah datang. Terlalu sempit membuat itik stres.
Lalu urusan pakan.
Awalnya ia membeli pakan pabrikan penuh. Lama-lama ia mulai mencampur sendiri. Dedak, jagung giling, limbah sayuran, sesekali tambahan vitamin dan bahan lain yang lebih hemat.
"Itik itu mirip manusia," katanya sambil tertawa lagi. "Kalau makanannya jelek, hasilnya ikut jelek."
Ia mulai hafal ritme hidup hewan-hewan itu. Itik Manila betina biasanya mulai produktif bertelur setelah beberapa bulan.
Sebagian telur dijual, sebagian ditetaskan. Untuk itik pedaging, ia memelihara sampai ukuran dan umur tertentu sebelum dijual.
Awalnya aku kira pekerjaan seperti itu melelahkan secara membosankan. Tetapi kulihat wajahnya justru tampak lebih tenang dibanding dulu.
Di sekeliling kandang tumbuh cabai, tomat, terong, kangkung, pisang, dan beberapa pohon buah yang mulai berbuah.
Kotoran itik tak dibuang sia-sia. Semuanya diolah menjadi pupuk.
"Sekarang hampir tidak ada yang benar-benar jadi sampah," katanya.
Aku mengangguk.
Dulu saat masih bekerja, pendapatannya memang lebih besar di atas kertas. Angkanya terlihat rapi. Tetapi sekarang ia mengatakan sesuatu yang membuatku diam.
"Kalau dihitung lagi, belum tentu aku lebih miskin."
Ia tidak lagi membeli banyak sayur. Kadang lauk juga tidak perlu beli. Telur ada. Daging ada. Buah ada. Cabai ada.
Pengeluaran yang hilang diam-diam ternyata jumlahnya lumayan.
Sebelum pulang aku membeli beberapa bungkus daging itik frozen bumbu ungkep buatannya. Kemasan plastik bening tersusun rapi di dalam freezer dekat ruang tamu.
"Tinggal kukus sebentar," katanya.
Sesampainya di rumah malam hari, aku memanaskannya.
Aromanya memenuhi dapur.
Aku mendadak teringat map berisi ijazah yang tersimpan di lemari itu.
Barangkali ada orang yang menggantung cita-cita di dinding.
Ada juga yang melipatnya baik-baik, menyimpannya di lemari, lalu memilih memelihara suara itik dan menunggu pagi datang dengan cara berbeda.
