Selamat Datang di Nara Kata Media

Sajian Sastra, Budaya, dan Pemikiran Kritis

Widget HTML #1

Kuli Atletis itu Teman SDku



Aku menghela napas panjang saat ibu menyuruhku ikut ke pasar pagi ini. Badan masih males, mata masih lengket, tapi ibu sudah siap dengan keranjang besar. 

“Ayok, cuma sebentar,” katanya. Akhirnya aku nurut juga, naik motor sambil menguap.

Begitu tiba di pasar, udara panas dan bau ikan langsung menyergap. Aku jalan di belakang ibu, mata melirik ke sana-sini. Lalu aku melihatnya.

Seorang mas-mas sedang memanggul beras. Shirtless. Kulitnya kecokelatan eksotis, berkilau oleh keringat di bawah sinar matahari pagi. 

Badannya atletis—bahu lebar, dada bidang, perut six-pack yang jelas terpahat meski bukan yang kering. 

Otot lengannya bergerak saat dia mengangkat karung beras seolah ringan seperti kapas. Lekuk otot punggungnya begitu sempurna, mengalir ke pinggang yang ramping.

Mataku langsung terpaku. Sekeren ini, batinku. Jantungku berdegup lebih cepat. Bayanganku melayang liar: dia hanya memakai sempak hitam slim fit, kain tipis yang menempel ketat di pinggul dan paha tebalnya. Pasti seksi banget. 

Aku membayangkan garis V di perut bawahnya yang menghilang ke balik sempak itu. Tenggorokanku terasa kering.

Ibu tiba-tiba berhenti. 

“Eh, itu Rian, kan? Temen SD-mu dulu!”

Aku mengerjap. Baru sadar. Ya ampun, benar. Wajahnya masih sama, tapi tubuhnya… beda banget. Dulu kurus dan pemalu, sekarang seperti patung Yunani yang hidup.

Rian menoleh saat ibu memanggil namanya. Senyumnya muncul, lebar dan tulus. 

“Eh, Deni? Lama banget gak ketemu!”

Kami ngobrol sebentar di sela kesibukannya. Suaranya dalam, agak serak karena teriak-teriak memanggil pembeli. Dia cerita sudah dua tahun jadi kuli panggul di pasar ini. 

“Lo kuliah ya? Keren. Gue cuma gini-gini aja,” katanya sambil tertawa kecil, tapi ada nada insecure di matanya.

Aku menggeleng. 

“Semua orang punya peran masing-masing, Rian. Lo kerja keras banget. Badan lo aja keliatan kuat gini.”

Tanpa sadar tanganku terulur, menepuk pundaknya pelan. Astaga. Pundak itu kokoh, padat, hangat, dan sedikit licin oleh keringat. 

Otot trapezius-nya terasa seperti batu di bawah telapak tanganku. Aku menahan diri agar tidak meremas lebih lama. 

Rian tersenyum lagi, kali ini lebih lembut, hampir malu-malu. Senyumnya manis, kontras dengan tubuh kekarnya.

“Lo masih sama aja, Den. Baik,” gumamnya.

Sesaat kami saling pandang. Ada sesuatu yang mengalir di udara panas pasar itu—tarikan yang tak terucap. 

Aku ingin bilang lebih banyak, ingin ajak dia ngopi nanti, ingin lihat lagi tubuh itu lebih dekat. Tapi ibu sudah selesai belanja dan memanggilku dari kejauhan.

“Aku pulang dulu ya. Seneng ketemu lo lagi,” kataku.

Rian mengangguk, matanya mengikuti langkahku. 

“Sama, Den. Hati-hati.”

Sepanjang jalan pulang, aku diam saja sambil boncengin motor. Angin pagi terasa sejuk di wajah, tapi dalam kepalaku masih terbayang lekuk otot Rian, senyum manisnya, dan sentuhan pundak yang kokoh itu. 

Pasar yang tadinya kubenci mendadak jadi tempat paling menarik di dunia.

Mungkin besok aku akan ikut ibu lagi ke pasar. Siapa tahu.