Mas Duda di Kampungku
Pagi-pagi buta, udara masih dingin menyelimuti halaman sempit itu. Dia berdiri di sana, duda bertubuh tegap, tinggi menjulang seperti pohon jati yang kokoh.
Singlet putih melekat basah di dada bidang yang naik-turun pelan saat menyapu.
Otot lengan menyembul, lekukan bahu dan punggungnya mengalir seperti sungai yang menggoda.
Anak kecilnya bermain di kaki, tertawa riang, tapi mataku tak bisa lepas dari kontur tubuh pria itu.
Memekku langsung basah. Panas menyusup pelan, seperti madu kental yang meleleh di antara paha.
Aku gigit bibir bawahku keras, menahan desah yang hampir lolos. Tangan ini gemetar memegang pagar, pura-pura menyiram tanaman, padahal hanya ingin menatap lebih lama.
Bayanganku liar: bagaimana kalau sarung itu melorot, memperlihatkan kontolnya yang pasti tebal, berurat, kepala merah mengkilap menanti kehangatan mulutku.
Tubuhnya proporsional, otot perut yang tersembunyi di balik kain, pasti enak sekali digigit pelan sambil aku naik turun di pangkuannya.
Malamnya, kamar gelap hanya diterangi cahaya remang lampu tidur. Aku telanjang bulat di atas kasur, kaki terbuka lebar.
Jari tengahku sudah licin masuk ke dalam memek yang lapar, bolak-balik pelan sambil bayangkan lengan kekarnya memeluk pinggangku.
“Ahh… fuck,” desahku pelan, mata terpejam.
Aku bayangkan dada bidang itu menindih payudaraku, putingku tersesap kasar oleh bibirnya.
Kontolnya pasti panjang, tegang, memenuhi rongga vaginaku sampai perutku terasa penuh.
Aku ingin dia dorong kuat, pelan dulu lalu ganas, sambil tangannya meremas bokongku, menarikku lebih dalam.
Dia duda, seperti aku. Tak ada istri yang terluka kalau aku mendekat. Hanya kami berdua, dua tubuh yang haus sentuhan.
Anak kecilnya butuh ayah yang kuat, tapi aku tahu tubuh itu juga butuh pelepasan. Tiap pagi aku melihatnya menggendong anaknya dengan lembut, tapi otot lengannya tetap menonjol, urat-uratnya menari di kulit.
Aku ingin merasakan urat itu di lidahku, menjilat dari pangkal sampai ujung kontol yang berdenyut.
Jari-jariku kini dua, bergerak lebih cepat. Memekku berdenyut, cairan panas mengalir ke sprei. Aku bayangkan dia menekanku ke dinding, sarungnya terlepas, kontolnya menusuk dalam satu hentakan.
“Enak… dalam sekali,” gumamku di antara desahan. Payudaraku bergoyang, tangan satunya meremas puting sambil membayangkan mulutnya mengisap kasar.
Orgasme datang seperti gelombang, membuat pinggulku terangkat, memekku kejang menggigit jari-jari sendiri. Aku basah sekali, cairan menyembur kecil, tapi tetap kurang.
Hanya ini yang bisa kulakukan. Tiap malam, berulang. Menatapnya dari kejauhan, basah sendiri, lalu colmek sampai lelah. Entah sampai kapan.
Mungkin besok aku berani menyapa, menawarkan bantuan mengurus anaknya. Atau mungkin selamanya hanya fantasi ini—tubuh tegapnya yang menggoda, kontol yang kubayangkan tebal dan panas, memenuhi kerinduanku yang tak pernah padam.
Angin malam menyapu jendela. Aku tersenyum lelah, jari masih basah di antara paha. Besok pagi, aku akan melirik lagi. Dan memekku akan basah lagi. Selalu begitu.
