Kenapa Cowok Makin Manly Justru Jadi “Boti”? Ini Ilmiahnya
Fenomena ini sering bikin orang garuk kepala, makin terlihat maskulin—badan jadi, rahang tegas, aura “alpha”—eh malah muncul ketertarikan mengeksplor peran yang dianggap berlawanan, termasuk jadi “boti”.
Kalau dibedah santai tapi tetap pakai kacamata ilmiah, ternyata ada beberapa faktor psikologis dan biologis yang cukup masuk akal.
Berikut penjelasannya:
1. Post-Manly:l, Lelah dengan Ekspektasi Maskulinitas
Cowok yang sudah “jadi” secara fisik biasanya juga sudah melewati fase pembuktian diri. Mereka workout, jaga pola makan, bahkan membentuk identitas maskulin yang kuat.
Tapi di titik tertentu, muncul yang disebut post-masculinity fatigue—kelelahan mental karena harus terus tampil kuat, dominan, dan nggak boleh lemah.
Secara psikologi, ini mirip konsep role strain. Ketika seseorang terlalu lama memainkan satu peran sosial tanpa ruang eksplorasi, muncul dorongan untuk “keluar jalur”.
Jadi bukan tiba-tiba berubah, tapi lebih ke mencari keseimbangan.
Peran yang dianggap “submissive” atau berbeda dari maskulinitas tradisional bisa terasa seperti bentuk pelepasan tekanan. Ibarat habis jadi bos terus, sesekali pengen jadi orang yang nggak harus ambil keputusan. Otak juga butuh libur.
2. Efek Samping Hormon, Otot Naik, Drive Bisa Turun
Ini agak teknis tapi penting. Beberapa cowok dengan tubuh sangat atletis—terutama yang menggunakan steroid anabolik—bisa mengalami gangguan pada sistem hormon, khususnya testosteron alami.
Secara ilmiah, penggunaan steroid eksternal bisa menekan produksi testosteron alami tubuh (melalui mekanisme negative feedback pada sumbu hipotalamus-hipofisis-gonad). Akibatnya:
- Libido bisa naik-turun nggak stabil
- Sensitivitas terhadap rangsangan berubah
- Preferensi atau fantasi bisa jadi lebih variatif
Ironisnya, badan makin berotot, tapi fungsi biologis yang berkaitan dengan “maskulinitas tradisional” justru bisa terganggu.
Ini bukan berarti otomatis mengubah orientasi, tapi bisa membuka ruang eksplorasi baru yang sebelumnya nggak terpikirkan.
3. Ketemu “Mirror” Sisi Anima Mulai Kebuka
Dalam psikologi analitik (Carl Jung), ada konsep anima—sisi feminin dalam diri pria. Biasanya, sisi ini nggak terlalu disadari, apalagi di lingkungan yang menuntut maskulinitas tinggi.
Nah, ketika cowok manly bertemu cowok manly lain, sering terjadi efek “mirror”: melihat refleksi diri di orang lain. Dari situ muncul:
- Rasa kagum terhadap fisik yang serupa
- Kedekatan emosional yang lebih dalam
- Rasa aman untuk eksplorasi identitas
Di titik ini, batas antara kompetisi, kekaguman, dan ketertarikan bisa jadi blur. Sisi anima yang sebelumnya “dipendam” mulai muncul ke permukaan.
Dan ketika lingkungan terasa aman (misalnya circle gym atau komunitas tertentu), eksplorasi ini jadi lebih mungkin terjadi.
Bukan Kontradiksi, Tapi Spektrum
Fenomena ini bukan soal “aneh” atau “nggak konsisten”. Justru menunjukkan kalau identitas manusia—termasuk maskulinitas—itu spektrum, bukan kotak kaku.
Cowok bisa terlihat sangat maskulin di luar, tapi tetap punya kebutuhan psikologis untuk melepas kontrol, mencari koneksi, atau mengeksplor sisi lain dirinya. Dan itu nggak otomatis menghapus maskulinitasnya.
Kalau diibaratkan, ini bukan soal berubah arah—tapi nambah dimensi.
Jadi ya, hidup nggak selalu hitam-putih. Kadang yang paling “alpha” justru lagi capek jadi alpha terus. 😄
