Selamat Datang di Nara Kata Media

Sajian Sastra, Budaya, dan Pemikiran Kritis

Widget HTML #1

Kamu Sekarang Lebih Berotot - Story




Setahun tak bertemu, dan malam ini dia kembali dengan senyum yang sama tapi tubuh yang sudah berubah total. 

Begitu pintu tertutup, dia langsung mendekat, menciumku dalam-dalam sampai lidah kami saling menjilat rakus. 

Bau tubuhnya masih maskulin dan sedikit manis, tapi sekarang ada kekuatan baru di setiap pelukannya.

Kami tak butuh banyak kata. Baju dilepas, celana jatuh ke lantai. Dia mendorongku ke kasur lalu naik ke atasku. 

Tubuhnya yang hangat menindihku perlahan. Aku mengulurkan tangan, membelai lembut lengannya yang terasa lebih halus dan berotot. 

Kulitnya licin seperti sutra, tapi di bawahnya otot lengan membengkak keras. Setiap kali dia menekan tubuhku, bisepnya menonjol, urat-uratnya terlihat jelas.

“Gila… ini beneran?” bisikku sambil terus mengelus lengannya naik-turun, dari bahu sampai siku, lalu turun ke dada yang kini lebih bidang dan keras.

Dia tertawa pelan, suaranya serak menggairahkan. 

“Setahun ini tiap hari telur rebus sama push-up gila-gilaan. Katanya biar badan lebih enak dipeluk.” Matanya menyipit nakal. 

“Dan emang bener, kan?”

Aku mengangguk, sudah tak bisa bohong. Kontolku mengeras di antara perut kami yang saling menempel. Dia menggesekkan tubuhnya pelan, membuat kontolnya yang tebal dan panas bergesekan dengan milikku. 

Basah. Keduanya sudah mengeluarkan precum yang licin, membuat gesekan semakin enak dan mesum.

Kami tak buru-buru ngentot. Kami memang jarang suka penetrasi. Terlalu kasar, terlalu cepat. Kami lebih suka yang lambat, yang basah, yang lama. Semalaman hanya cuddle. 

Dia berbaring di atasku, aku di bawahnya, tangan kami menjelajahi setiap inci tubuh. Aku meremas pantatnya yang kencang dan padat, jari menyusup di antara celahnya, merasakan lubangnya yang hangat dan berdenyut tiap kali aku usap pelan. 

Dia balas menciumi leherku, menggigit putingku sambil tangannya memainkan kontolku dengan gerakan lambat yang menyiksa nikmat.

“Enak banget peluk kamu sekarang,” gumamku di telinganya. “Dulu kurus, sekarang tiap ototnya bikin aku pengen jilat dari ujung sampai ujung.”

Dia hanya mendengus, lalu menggesekkan kontolnya lebih kuat di perutku. Kami terus begitu sampai mata lelah. Tertidur dalam pelukan erat, tubuh saling menempel, kontol masih setengah tegang di antara paha masing-masing, keringat bercampur.

Subuh datang. Cahaya pertama menyusup lewat celah gorden dan jendela kaca. Aku terbangun karena dia sudah bangun duluan, tangannya masih memegang pinggulku, jari telunjuknya mengelus pelan celah pantatku. Kami lanjutkan lagi. 

Tak ada kata “pagi”, hanya desahan pelan dan belaian yang semakin dalam. Aku balik posisi, sekarang di atas, mengecup dada bidangnya yang naik-turun, menjilat putingnya yang mengeras, lalu turun ke perut six-pack yang terbentuk karena telur rebus itu.

Kami terus cuddle sampai matahari naik tinggi. Basah keringat, lengket precum, tapi tak ada yang benar-benar klimaks. 

Hanya kenikmatan panjang, lambat, dan vulgar dalam keintiman yang kami pilih. Dia memelukku erat dari belakang, kontolnya menekan pantatku tanpa masuk, bibirnya di tengkukku.

“Besok lagi?” tanyanya serak.

Aku tersenyum, menggenggam lengannya yang kini jadi candu baru. “Tiap hari, kalau bisa.”