Kita Kan Cuma Temen, Meski Pernah Ng***ot
Aku terdiam di depan pintu kamar kos Betran. Suara desahan samar-samar masih terdengar dari balik dinding tipis yang memisahkan kamar kami. Napasku tertahan.
“Emang hubungan kita apa? Kan cuma temen,” kata Betran tadi sore, santai seperti membahas cuaca. Kata-kata itu masih bergema di kepalaku.
Hanya teman?
Padahal baru dua malam lalu dia mengetuk pintu kamarku jam dua pagi. Matanya sudah gelap penuh nafsu.
“Lagi pengen,” bisiknya pendek.
Aku langsung membuka pintu lebar. Tak butuh kata-kata lagi. Betran langsung mendorongku ke kasur, bibirnya menyambar leherku dengan lapar.
Tangannya yang kasar tapi terampil menelusuri tubuhku, membuka celana pendekku dengan satu gerakan.
Kontolnya yang tebal dan panjang sudah mengeras, siap menusuk. Saat dia masuk ke dalam diriku, pelan tapi pasti, aku menggigit bantal untuk menahan erangan.
Setiap hantaman membuatku melayang. “Enak banget, Ran…” desahku di antara napas yang tersengal.
Dia hanya mendengus, tangannya mencengkeram pinggulku lebih erat, mempercepat irama hingga kami berdua mencapai klimaks hampir bersamaan.
Pagi harinya dia tersenyum biasa saja, seolah tak ada yang terjadi. “Makasih ya,” katanya sambil merapikan baju. Lalu pergi ke kampus seperti biasa.
Itu bukan sekali dua kali. Kadang aku yang sange berat, chat dia cuma “Ke sini”. Lima menit kemudian dia sudah ada di kamarku, jagonya langsung berdiri.
Dia suka meniduri aku dari belakang sambil mencium tengkukku. Bibirnya selalu hangat, endusannya pelan tapi dalam, membuat seluruh tubuhku merinding nikmat.
Aku merasa kami punya ikatan. Sesuatu yang lebih dari sekadar teman sekos.
Ternyata aku salah besar.
Malam ini, dinding kamar sebelah lagi-lagi bergetar. Suara ranjang yang berderit. Desahan cowok lain yang lebih rendah dari suara Betran.
Aku berdiri di koridor, tangan gemetar memegang gagang pintu yang tak berani kubuka. Tapi telingaku tak bisa bohong.
Betran sedang mengentot orang lain. Di kamar yang hanya dibatasi dinding gipsum ini. Persis seperti dia biasa mengentotku.
Aku kembali ke kamar, duduk di tepi kasur. Dada terasa sesak. Air mata tanpa izin mengalir di pipi.
Kenapa aku cemburu? Betran kan memang bilang kami cuma temen. Friend with benefits. Bebas. Dia boleh tidur dengan siapa saja. Aku juga boleh.
Tapi kenyataannya, aku tak pernah menyentuh orang lain sejak pertama kali merasakan sentuhannya. Aku sudah nyaman. Terlalu nyaman.
Aku ingat malam pertama kami. Hujan deras di luar. Listrik padam. Kami berdua minum bir di kamarku.
Obrolan konyol tentang mantan berubah jadi ciuman panas. Betran yang lebih tinggi, tubuhnya atletis karena rutin main futsal, menindihku dengan lembut.
“Boleh?” tanyanya saat tangannya sudah di dalam celanaku.
Aku hanya mengangguk. Malam itu dia mengajarkanku kenikmatan yang belum pernah kurasakan. Pelan, penuh perhatian, sampai aku memohon lebih dalam.
Setelah itu, kami melakukannya hampir tiap minggu. Kadang kasar, kadang lembut. Kadang dia yang minta, kadang aku. Tapi tak pernah ada janji. Tak pernah ada kata “pacar”. Hanya “temen”.
Sekarang aku mengerti. Selama ini aku hanya pelampiasan nafsunya yang praktis. Tetangga kamar sebelah yang selalu siap. Bodohnya aku yang berharap lebih.
Pagi harinya Betran keluar kamar dengan rambut acak-acakan, tersenyum lebar seperti biasa. Cowok yang semalam keluar tak lama setelahnya, melirikku sekilas dengan pandangan aneh. Aku pura-pura sibuk di dapur kecil kami.
“Pagi,” sapa Betran sambil mengambil kopi. “Lo kemarin malam denger apa-apa gak?”
Aku menggeleng. Tenggorokanku tercekat.
Dia tertawa pelan. “Sorry ya, agak berisik. Lagi sange banget.”
Aku memaksakan senyum. “Santai aja. Kan kita cuma temen.”
Betran menepuk bahuku ringan, tak sadar bahwa sentuhannya yang biasa itu sekarang terasa seperti pisau. “Lo the best, bro.”
Dia pergi ke kampus. Aku duduk sendirian di meja makan kecil itu, menatap cangkir kopi yang sudah dingin. Sakit. Tapi aku tak berhak marah.
Aku yang memilih untuk terus membuka pintu setiap kali dia datang. Aku yang membiarkan diriku jatuh ke dalam ilusi hubungan khusus.
Mungkin saatnya berhenti. Mungkin saatnya mencari kamar kos baru. Atau mungkin… aku masih akan membuka pintu lagi malam ini kalau dia mengetuk.
Karena meski hanya teman, meski hanya FWB, aku masih ingin merasakan sengatan kontolnya yang nikmat itu satu kali lagi. Bahkan kalau itu berarti hati ini harus remuk berkali-kali.
