Selamat Datang di Nara Kata Media

Sajian Sastra, Budaya, dan Pemikiran Kritis

Widget HTML #1

Sampe Netes Netes di Lantai




Aku masih mendesah keenakan saat topku minta pindah ke samping kasur. 

Tubuhku basah keringat, lubang pantatku yang sudah longgar dan licin itu masih penuh dengan kontolnya yang tebal dan panjang. 

Setiap kali dia bergerak pelan, kepala kontolnya menggesek dinding dalamku, bikin aku menggigil.

"Biasanya kontolmu netes-netes kalo udah desah manja gini," katanya sambil nyengir, suaranya serak penuh nafsu. 

"Kita pindah samping aja ya, biar gak jatuh ke sprei."

Aku cuma bisa mengangguk lemah, napasku tersengal. Kami bergerak pelan tanpa melepaskan sambungan. 

Kontolnya tetap tertancap dalam-dalam di lubang pantatku yang basah. Setiap langkah membuat batangnya mengaduk isi perutku, bikin aku mendengus dan menggigit bibir. 

Akhirnya kami berdiri di samping kasur, kakiku agak lebar, tanganku bertumpu di pinggir tempat tidur.

Dia langsung genjot lagi. Lebih kuat. Lebih dalam. Plok-plok-plok suara tabrakan kulit kami memenuhi ruangan. 

Kontolnya yang besar itu keluar-masuk tanpa ampun, kepalanya selalu nyodok prostatku sampai cairan beningku muncrat-muncrat ke lantai.

"Enak banget ya?" tanyanya sambil tertawa kecil, tangannya mencengkeram pinggulku erat. 

Genjotannya semakin cepat, otot perutnya yang kencang bergoyang setiap kali dia dorong pinggulnya maju.

"Ahh... iya... enak... fuck...," erangku liar. Kontolku yang sudah keras banget itu bergoyang-goyang di depan, ujungnya terus meneteskan precum yang bening dan lengket. 

Setiap hantaman dia, cairan itu muncrat lebih banyak, berceceran di lantai dingin. Aku sudah nggak peduli. Rasanya terlalu enak. 

Kontolnya yang tebal itu mengisi aku penuh, menggesek titik paling sensitif di dalam sana berulang-ulang.

Dia meraih pinggangku, menarik tubuhku ke belakang sambil terus menggenjot. 

Aku melengkungkan punggung, pantatku makin terbuka untuknya. Desahanku jadi jeritan kecil yang manja setiap kali bola-bolanya menampar bokongku. 

Keringatnya menetes ke punggungku. Bau sex kami bercampur, bikin kepalaku pusing enak.

"Ini semacam healing," gumamku di sela-sela desahan. "Having fun sama kontol gede gini... bikin stres hilang semua."

Dia tertawa serak lalu mempercepat ritme. Genjotannya juara beneran. Kasar tapi pas, dalam tapi nggak buru-buru. 

Aku merasakan ototnya menegang, kontolnya makin berdenyut di dalam lubangku yang sudah banjir precum.

Akhir ronde, dia mendesah panjang. Aku langsung memeluknya erat, mencium bibirnya dalam-dalam. Lidah kami saling jilat, gigit, hisap. 

Tubuh muscle-nya yang keras dan panas itu menempel sempurna di tubuhku yang lembek karena kenikmatan. 

Kontolnya masih setengah keras di dalam pantatku, pelan-pelan melunak sambil meneteskan sisa cairannya.

Kami berciuman lama, tanganku meraba dada bidangnya yang basah keringat, meremas otot lengannya yang kekar. 

"Kontolmu enak banget," bisikku di telinganya. "Ganteng, berotot, dan selalu bikin aku puas."

Dia tersenyum, mencium keningku sambil tangannya mengelus punggungku pelan. 

"Kamu juga enak banget, lubangmu nyedot kontolku kayak nggak mau lepas."

Kami masih berdiri di sana, saling peluk, napas kami perlahan tenang. Lantai di bawah kami basah oleh bukti kenikmatan tadi. 

Malam ini masih panjang, dan aku sudah tidak sabar untuk ronde berikutnya.