Selamat Datang di Nara Kata Media

Sajian Sastra, Budaya, dan Pemikiran Kritis

Widget HTML #1

Bersama Kak Lana, Senior Kosku



Pagi itu udara masih sejuk dengan sisa embun. Aku baru selesai mandi, handuk melilit pinggang, membawa ember berisi baju-baju yang sudah kukucek bersih. 

Rooftop kosan yang sempit ini selalu ramai jemuran, tapi pagi ini hanya ada satu orang di sana.

Kak Lana.

Dia berdiri membelakangiku, hanya memakai sempak abu-abu ketat yang membungkus bokongnya dengan sempurna. 

Badannya proporsional, dada bidang tapi tidak kaku seperti anak gym, perut agak berisi tapi tetap rata, kulit sawo matang yang berkilau karena keringat pagi. 

Usianya 26 tahun, karyawan minimarket dekat gang. Rambutnya acak-acakan, tapi wajahnya tetap cakep—mata sipit lembut, hidung mancung, bibir tipis yang selalu kelihatan seperti sedang tersenyum tipis.

Aku meletakkan ember di sebelahnya. 

“Pagi, Kak.”

Dia menoleh, tersenyum. 

“Pagi. Jemur juga?”

“Iya. Baru kucek.”

Kami berdiri berdampingan, menjemur baju sambil angin pagi meniup pelan. Kosan ini memang padat, campur aduk—ada mahasiswa, ada tukang ojek, ada karyawan seperti Kak Lana. 

Aku sengaja memilih kos di sini bukan karena murah saja, tapi karena aku ingin pengalaman baru. Lingkungan yang lebih beragam. Lebih… bebas.

"Badan Kak Lana bagus juga,” ujarku pelan, mata aku sesekali melirik ke arah dadanya yang naik-turun pelan saat dia merentangkan kaos.

Dia tertawa kecil, tidak malu. 

“Makasih. Kerja di minimarket emang harus begini katanya. Good looking, badan proporsional, biar pelanggan betah. Tapi dasarnya aku emang cakep sih,” katanya sambil mengedipkan mata.

Aku ikut tertawa, tapi jantungku sudah berdegup lebih kencang. 

“Iya, dasarnya Kak Lana emang cakep. Bukan cuma badannya.”

Sesaat hening. Hanya suara angin dan kain yang berkibar. Kak Lana menatapku lebih lama. Matanya turun ke dadaku yang masih telanjang, lalu ke handuk yang melilit pinggangku.

“Kamu… suka lihat yang kayak gini?” tanyanya pelan, suaranya agak serak.

Aku tidak menjawab langsung. Aku hanya mendekat selangkah. Bau sabun mandi dan keringat pria dewasa bercampur di udara. 

“Mungkin. Apalagi kalau orangnya Kak Lana.”

Dia tidak mundur. Malah tangannya terulur, menyentuh pinggangku pelan di atas handuk. Jari-jarinya hangat. 

“Aku udah notice kamu dari minggu lalu. Selalu ngelirik pas aku pulang kerja.”

Kami saling pandang. Tidak ada kata lagi. Kak Lana menarikku pelan hingga dada kami hampir bersentuhan. Aku bisa merasakan panas tubuhnya. Lalu dia menciumku—pelan dulu, ragu, kemudian semakin dalam ketika aku membalas. 

Bibirnya lembut, lidahnya hangat. Tangan besarnya merayap ke punggungku, menekanku lebih dekat.

Handukku melonggar. Sempaknya sudah menunjukkan tanda ketertarikan yang jelas. Aku menyentuh perutnya yang berisi, merasakan otot-otot halus di bawah kulit. Napas kami sama-sama memburu.

“Kita… di sini?” bisikku di sela ciuman.

“Pintu rooftop dikunci dari bawah. Paling cuma angin yang ngintip,” jawabnya sambil tersenyum nakal.

Kami tidak butuh banyak waktu. Di antara jemuran yang bergoyang pelan, Kak Lana menarikku duduk di bangku beton tua. Tangannya yang kasar karena kerja harian menjelajah tubuhku dengan penuh rasa ingin tahu. 

Aku melakukan hal yang sama—mengecup lehernya, dada bidangnya, sampai ke perut yang hangat. Bau tubuh pria dewasa yang maskulin membuat kepalaku pusing nikmat.

Kami saling memberi kenikmatan dengan tangan dan mulut, tanpa tergesa. Pagi yang sepi itu menjadi saksi bagaimana dua pria di kosan sederhana ini saling menyentuh dengan lapar yang sudah lama disembunyikan. Desahan pelan Kak Lana ketika aku menyentuhnya membuat darahku semakin panas.

Setelahnya, kami duduk berdampingan, napas masih ngos-ngosan. Dia menyandarkan kepalanya di bahuku sebentar.

“Jadi… ini salah satu pengalaman baru yang kamu cari di kos ini?” tanyanya sambil terkekeh.

Aku tersenyum, mencium pipinya. “Salah satunya. Dan kayaknya bakal ada yang lebih banyak lagi.”

Angin pagi meniup lebih kencang, membawa bau deterjen dan aroma tubuh kami yang bercampur. Di rooftop kosan padat penduduk yang sederhana ini, aku merasa baru saja menemukan sesuatu yang jauh lebih hangat dari sinar matahari pagi.