Ternyata dia sudah meninggal
Aku berdiri antri di gerai roti stasiun, aroma mentega hangat bercampur bau kopi dan keramaian penumpang sore. Tiba-tiba pundakku ditepuk pelan.
“Eh, ini kan...?”
Aku menoleh. Kak Leni. Masih sama seperti tiga tahun lalu—tinggi, kulit sawo matang, senyumnya hangat tapi sekarang ada kerut halus di sudut mata.
“Kak Leni...” suaraku hampir hilang.
Kami berbasa-basi sejenak. Cuaca, kemacetan, roti apa yang lagi enak. Lalu dia bilang pelan, “Kamu sudah denger soal Edo?”
Aku menggeleng.
Kak Leni menarik napas panjang.
“Dia meninggal tahun lalu. Komplikasi. Badannya... kurus banget di akhir. Tinggal tulang dan kulit.”
Dunia seolah berhenti berputar. Roti di tanganku hampir jatuh.
Kami keluar dari antrian, duduk di bangku panjang stasiun. Aku tak bisa bicara. Kak Leni hanya diam, memberiku waktu.
Dulu, Edo adalah segalanya. Aku akrab dengan kak Leni.
“Main ke sini lagi ya,” kata Kak Leni dulu sambil tersenyum, tak pernah curiga.
Padahal setiap malam aku dan Edo tidur telanjang di kamarnya yang sempit.
Tubuh atletisnya yang proporsional, dada bidang dengan otot yang masih kencang, perut rata yang suka kuhisap pelan.
Kami saling sepong sampai napas tersengal. Hanya sekali kami mencoba ngentot. Kontol Edo besar, kepala jamurnya tebal.
Aku kesakitan saat dia mencoba memasukkan, tubuhku menegang, air mata keluar. Akhirnya dia berhenti, memelukku sambil bilang
“Maaf ya... lain kali pelan-pelan.”
Tapi “lain kali” tak pernah datang. Beberapa hari setelah lulus SMA, Edo memutuskan aku. Dingin.
“Jangan hubungi aku lagi.”
Ternyata dia sudah selingkuh dengan Herman. Mungkin karena aku terlalu sempit. Mungkin dia butuh yang lebih longgar, yang bisa menerima ukurannya tanpa menangis.
Dan sekarang dia sudah tiada.
“Aku minta maaf, Kak...” kataku tiba-tiba, suara bergetar. “Maaf karena dulu sering ke rumah...”
Kak Leni mengernyit bingung.
“Maaf buat apa? Kamu kan sahabat Edo.”
Aku hanya tersenyum getir. Dia tak pernah tahu. Tak pernah tahu betapa dalam aku mencintai adiknya.
Tak pernah tahu malam-malam kami saling menelan, saling mencium sampai bibir bengkak.
Tak pernah tahu Edo mengusirku dari hidupnya seperti sampah.
Air mata jatuh tanpa bisa kutahan. Kak Leni terkejut, tapi segera mengusap pundakku pelan. Tangan besarnya hangat, menenangkan.
“Sudah... sudah...” bisiknya. “Edo memang keras kepala. Tapi dia pernah bilang, kamu yang paling tulus.”
Aku menangis lebih keras. Bukan hanya karena Edo mati, tapi karena semua kenangan yang kini tak bisa dibalas.
Tubuh atletis yang dulu kukagumi kini tinggal kenangan. Sentuhan, ciuman, dan rasa sakit manis yang hanya sekali itu.
Kereta lewat dengan deru keras. Kak Leni tetap mengusap pundakku, tak melepaskan.
Di tengah hiruk-pikuk stasiun, aku merasa sedikit tak sendiri—meski luka lama itu kembali menganga lebar.
