Boti itu ternyata adalah aku
Aku rebahan pasrah di ranjang apartemennya yang mewah. Kedua kakiku diangkat tinggi dan ditahan erat tapi lembut oleh Egi.
Lubang bokongku sudah dilumuri pelumas tebal yang dingin dan licin sempurna.
Dia berdiri di antara kakiku yang terbuka lebar, kontolnya yang panjang, tebal, dan berurat sudah terbungkus kondom tipis transparan.
Ujungnya yang mengkilap karena pelumas digesek-gesek pelan di sekitar lubangku yang berkedut-kedut penuh nafsu.
"Udah siap?" tanyanya dengan suara serak pelan, matanya menatapku penuh perhatian dan hasrat terkendali.
Aku mengangguk cepat, napasku sudah berat. "Iya Gi… masukin pelan-pelan. Aku siap."
Dia dorong pelan tapi mantap. Kepala kontolnya yang besar membuka lubangku sedikit demi sedikit. Licin, mulus, masuk dengan mudah tanpa hambatan.
Aku merasakan kontolnya mengisi diriku perlahan, meregangkan dinding dalam yang sensitif. Sensasi penuh dan hangat langsung menyergap. Aku menggeliat, mulut terbuka lebar.
"Ahhh… enak… "
Egi mulai maju mundur pelan-pelan. Pinggulnya bergoyang ritmis, kontolnya keluar hampir seluruhnya lalu dorong dalam lagi sampai pangkalnya menempel di bokongku.
Setiap gerakan menggesek prostatku dengan tepat. Rasa nikmat semakin tak tertahan. Apalagi jari jemarinya yang lincah sambil memainkan putingku—memutar, mencubit pelan, mengusap lingkarannya.
Tubuhku semakin panas, kontolku yang belum disentuh pun sudah menetes cairan bening deras sejak tadi.
Dua bulan sebelumnya…
Aku tak menghiraukan meskipun di kalangan pelangi, Egi udah jadi top populer. Banyak cerita tentang kemampuannya di ranjang, bagaimana dia bisa bikin boti ketagihan hanya dengan satu kali ngewe.
"Dia pasti mau genjot lu, lagian lu kan cakep," ucap temenku suatu malam di bar.
Aku hanya tertawa sinis. "Males banget sama top player kayak Egi. Kesannya murahan banget. Aku nggak mau jadi boti yang haus genjotan dan antri buat kontolnya."
Temenku mengangguk paham.
"Namanya dunia pelangi ya gini. Tapi dia playing safe kok. Pengaman dan pelumas selalu ready. Katanya nggak pernah skip, selalu pakai, dan komunikatif."
Aku tetap pada pendirianku. Aku tak ingin jadi bagian dari antrian itu. Aku punya standar.
Tapi sekarang, aku menyalahi perkataanku sendiri.
Kami bertemu lagi secara tak terduga di sebuah cafe komunitas dua minggu lalu. Egi mendekat dengan senyum hangat, bukan tatapan genit murahan.
Kami ngobrol dari soal kerja sampai hobi favorit. Dia lucu, cerdas, dan respect. Tak ada kesan “aku top, kamu boti”. Kami mulai saling chat.
Awalnya aku masih ragu dan menjaga jarak, tapi dia sabar. Kemarin, setelah dinner santai, dia ajak ke tempatnya “kalau kamu nyaman”.
Begitu di dalam, ciuman panas pecah. Tangan kami saling meraba, mulutnya turun ke leher, dada, lalu putingku.
Aku lumer total. Dia bawa ke kamar, telanjangi aku pelan sambil terus bertanya “Boleh?” di setiap langkah.
Kini aku di posisi ini, kontolnya sedang mengentot lubangku dengan nikmat yang tak pernah aku bayangkan.
Akhirnya aku takluk juga sama kontolnya Egi, dan entotannya enak banget. Pantes para boti antri buat ngerasain kontolnya.
Selain itu dia juga soft action, bukan yang nafsuan agresif tanpa ampun. Dia komunikatif dan manjain botinya. Bahkan dia konfirmasi selalu apakah botinya kesakitan atau udah dapet enaknya.
Hampir 30 menit dia entot aku. Kadang dia berhenti sebentar, “Kamu okay? Sakit nggak? Atau mau aku ubah posisi?”
Aku geleng, “Jangan berhenti Gi… enak banget… terus entot aku…”
Dia senyum puas, “Bagus. Aku suka kamu jujur.” Lalu dia percepat sedikit, sudut dorongannya berubah, mengenai prostatku lebih intens.
Aku melengkung, desahan tak terkendali keluar dari mulutku. Kontolku menetes deras, basah kuyup. Tubuhku gemetar, orgasme sudah di ambang pintu.
“Gi… aku… mau muncrat… nggak tahan lagi…”
“Muncrat aja baby. Biar aku liat kamu puas total.”
Dengan beberapa dorongan dalam yang tepat dan kuat, aku meledak. Sperma menyembur kencang dari ujung kontolku tanpa perlu disentuh, mengenai perut dan dada.
Lubang bokongku menjepit kontolnya berirama saat gelombang nikmat mengguncang seluruh tubuh. Aku berteriak panjang, “Ahhh… Gi… enak…!”
Egi terus bergerak pelan selama aku klimaks, memperpanjang kenikmatan orgasme panjang itu. Setelah reda, dia tarik kontolnya pelan-pelan, lepas kondom dengan hati-hati, lalu membersihkan kami berdua menggunakan tisu basah hangat. Dia tarik aku ke pelukannya, cium keningku.
“Kamu luar biasa,” bisiknya.
Aku tertawa lelah tapi bahagia, “Ternyata aku lah salah satu boti yang dijamah kontolnya Egi. Dan aku nggak nyesel sedikit pun. Kontolmu emang juara.”
Dia terkekeh, tangannya mengusap punggungku. “Selamat datang di daftar khusus. Tapi mulai sekarang, aku mau kamu lebih sering. Khusus buat kamu.”
Aku mengangguk, wajah tertanam di dadanya yang bidang. “Deal. Tapi besok gantian kamu yang di bawah.”
Kami tertawa bersama. Malam itu, aku sadar kadang menyerah pada hasrat bisa jadi keputusan terbaik—terutama jika orangnya seperti Egi: safe, soft, tapi entotannya bikin ketagihan.
