Selamat Datang di Nara Kata Media

Sajian Sastra, Budaya, dan Pemikiran Kritis

Widget HTML #1

Suamiku Pria Tampan di Desa




Aku, Rani, lahir dan besar di Jakarta. Setiap hari dikelilingi gedung pencakar langit, kemacetan, dan hiruk-pikuk mall. Hidupku penuh AC dan layar gadget. Tapi semuanya berubah setelah aku menikah dengan Baday.

Baday pria desa asli dari sebuah kampung di lereng Gunung Slamet. Tubuhnya atletis alami—bahu lebar, lengan kuat, kulit sawo matang karena sering bekerja di bawah matahari. 

Wajahnya tampan dengan senyum yang membuat lututku lemas. Usahanya peternakan kambing cukup luas, puluhan ekor kambing PE dan etawa yang sehat. 

Aku yang dulu takut kotoran hewan, kini belajar mencintai aroma prengus dan suara embik kambing di pagi hari.

Pindah ke desa adalah keputusan yang mengejutkan banyak orang. 

“Kamu gila, Ran? Dari apartemen mewah ke rumah kayu di desa?” tanya teman-temanku. 

Tapi aku tak menyesal. Baday bukan tipe pria kota yang manja. Dia bangun sebelum subuh, memberi makan ternak, membersihkan kandang, lalu pulang dan membantu aku di dapur. 

Dia bisa memotong kayu, memperbaiki atap bocor, sekaligus mencuci piring. 

Di kota, hal-hal itu biasanya kami serahkan ke tukang. Di sini, suamiku melakukannya dengan ringan sambil bersiul.

Malam hari adalah bagian yang paling aku nanti. Di kamar sederhana kami yang hanya diterangi lampu kecil, Baday selalu lembut tapi penuh gairah. 

Kontolnya standar, tidak terlalu besar, tapi saat mengeras begitu kaku dan penuh tenaga. 

Dia tahan lama, bergerak dengan ritme yang pas, seolah tahu setiap titik sensitifku. 

Aku sering klimaks dua sampai tiga kali dalam satu ronde. Tubuhku yang dulu hanya terbiasa dengan hubungan cepat dan dingin di kota, kini merasakan kepuasan yang dalam. 

Peluh kami bercampur, napas kami saling kejar di antara desau angin malam desa yang sejuk.

Pagi hari, aku bangun dengan aroma kopi dan suara ayam berkokok. 

Dari teras rumah, hamparan sawah hijau dan perbukitan membentang. Udara bersih, tak ada polusi. 

Sesekali Baday mengajakku ke kandang, mengajariku memerah susu kambing. Tangannya yang kasar memegang pinggangku dari belakang, bisikannya di telinga membuatku geli dan hangat.

“Capek nggak, sayang?” tanyanya suatu sore saat aku membantu memberi rumput.

“Enggak. Ini lebih hidup daripada di kota,” jawabku sambil tersenyum.

Setiap dua bulan sekali kami ke Jakarta. Aku bertemu orang tua dan teman-teman, berjalan di mal yang dulu biasa, tapi kini rasanya asing. 

Aku merindukan hiruk-pikuk itu, tapi hanya sebentar. Setelah dua hari, aku sudah kangen desa. 

Kangen pelukan Baday yang hangat setelah seharian kerja, kangen malam-malam di mana dia membuatku menjerit pelan di balik selimut tebal.

Hidupku kini sederhana tapi penuh warna. Dari wanita kota yang takut kotor, aku jadi istri peternak yang bangga. 

Setiap kali melihat Baday pulang dengan baju kotor tapi senyum lebar, hatiku penuh. 

Ternyata kebahagiaan bukan di gedung tinggi, melainkan di pelukan suami yang kuat, di desa yang sejuk, dan di ritme cinta yang tulus.