Boti Dilarang Ngekos Di sini
Suasana kos ini lumayan nyaman bagiku. Gedung berbentuk U dengan pohon besar di tengah area dalam, dikelilingi tanaman hijau yang membuat udara terasa sejuk meski di tengah kota.
Dari jendela kamarku di lantai dua, parkiran mobil dan motor terpantau jelas. Malam-malam seperti ini, angin masuk pelan, membawa bau tanah basah setelah hujan sore tadi.
Kamar bersih, kasur empuk, dan WiFi stabil. Seharusnya aku bisa betah.
Tapi ada secarik kertas peraturan yang tertempel di dinding dekat pintu. Huruf-huruf tebal, poin demi poin. Sampai di bagian paling bawah: Tidak boleh LGBT.
Aku membacanya lagi sambil duduk di tepi kasur. Pemilik kos pasti tidak akan tanya langsung soal orientasiku.
Aku datang dengan penampilan rapi, badan kekar dari gym rutin, suara berat. Mereka melihatku sebagai cowok biasa. Tapi aturan itu tetap mengganggu.
Kadang kalau lagi gabut, aku suka buka aplikasi. Profil-profil di dekat sini, pesan singkat, janjian.
Bayanganku sederhana: mengajak salah satu ke kamar ini, pintu terkunci, lampu redup. Tubuh menempel, napas memburu, sampai puas.
Atau, kalau tidak berani, cukup coli diam-diam di jemuran malam hari. Mengendus sempak penghuni lain yang badannya bagus, aromanya masih tersisa. Gila, tapi pikiran itu selalu datang saat sepi.
Ini dilema.
Tadi sore, penjaga kos datang membawa kunci cadangan. Dia lelaki paruh baya, ramah tapi tegas. Sambil menjelaskan aturan kos, dia menunjuk poin terakhir itu.
“Itu maksudnya gimana ya, Pak?” tanyaku pura-pura polos.
“Ah, itu lho, Mas. Cowok sama cowok. Lagi rame kos-kosan jadi tempat mesum boti.”
“Boti?”
“Iya, yang cowok tapi kayak cewek. Melambai-lambai, feminin gitu. Banyak yang suka bawa tamu laki-laki, terus ribut. Makanya dilarang.”
Aku mengangguk pelan. “Ooh…”
Penjaga itu tidak curiga sedikit pun. Matanya memindai tubuhku yang berotot, lengan tebal, dada bidang. Baginya, aku aman.
Aku tersenyum tipis, mengiyakan semua penjelasannya tentang jam kunjungan, kebersihan, dan larangan nginap tamu.
Setelah dia pergi, aku menutup pintu dan menghela napas panjang. Ternyata dia hanya tahu boti sebatas yang melambai feminin.
Dia tidak tahu ada yang seperti aku—boti yang suka dientot, suka merasakan tekanan berat di atas tubuh, tapi tetap tampil maskulin.
Banyak yang tidak percaya kalau cowok berbadan besar bisa menikmati peran itu. Aku sendiri lebih nyaman begitu. Rahasia yang kusimpan rapat.
Malam semakin larut. Aku berbaring, menatap langit-langit. Pohon besar di tengah gedung bergoyang pelan ditiup angin. Kamar ini nyaman, tapi aturan itu seperti pengingat diam-diam.
Aku bisa tinggal di sini dengan aman selama aku pandai menyembunyikan diri. Tapi bagian dalamku tetap gelisah.
Apakah aku akan terus menahan fantasi-fantasi itu? Atau suatu saat, dorongan itu akan lebih kuat daripada ketakutan ketahuan?
Untuk sekarang, aku memilih diam. Menikmati kesejukan angin dari jendela, sambil memeluk rahasia yang hanya aku tahu. Kos ini sejuk dan bersih. Tapi di dalam dada, ada badai kecil yang tak pernah benar-benar reda.
