Harusnya Kamu Bilang Kalau Udah Punya Istri
Aku sudah melepas semua pakaianku, hanya tersisa sempak biru tipis yang menempel ketat di tubuh. Udara malam terasa dingin di kulit, tapi panas di dada sudah membara.
Dia berdiri di depanku, mata menelusuri setiap inci tubuhku dengan lapar. Kami sudah janji malam ini. Sudah lama aku menantikan momen ini.
Tapi tiba-tiba dia bilang, suaranya santai seperti membahas cuaca,
“Dalam tiga hari ke depan rumah ini sepi. Istriku ada kerjaan di luar kota.”
Aku terkejut. Tubuhku membeku.
“Istri? Kamu udah punya istri?”
“Iya,” jawabnya sambil tersenyum tipis, seolah itu hal biasa.
“Kok kamu gak bilang?” Suaraku naik.
“Kamu kan gak nanya?”
Aku langsung meraih kaosku yang tergeletak di lantai, lalu menarik celana jeans dengan gerakan kasar. Jari-jemariku gemetar karena campuran marah dan kecewa.
“Kok dipake lagi?” tanyanya, alisnya terangkat.
“Kenapa kamu gak bilang kalau udah punya istri?” bentakku.
Dia mendekat. “Lekas aja kita lanjut. Kita udah sampe sini.”
Aku mundur selangkah. “Gue ogah sama suami orang.”
Dia menahan lenganku, tarikannya cukup kuat hingga aku hampir kehilangan keseimbangan.
Sebelum aku bisa protes lagi, bibirnya sudah menempel di bibirku. Ciumannya panas, mendesak, lidahnya menyelinap masuk dengan ahli.
Tubuhku yang hampir telanjang menempel padanya. Bau sabun dan keringat pria itu memenuhi indraku.
Sejenak, aku lemah. Aku suka dia. Sangat. Wajahnya tampan, dada bidang, dan otot perut yang terbentuk sempurna.
Sudah berminggu-minggu aku sange membayangkan dia di atasku, masuk ke dalamku dengan kuat. Tapi sekarang, kata “istri” itu seperti ember air dingin yang disiram ke kepala.
Aku mendorong dadanya hingga ciuman itu terputus. “Apa salahnya kalau aku punya istri?” tanyanya lagi, napasnya memburu.
“Itu namanya selingkuh,” tegasku keras. “Gue bukan perebut suami orang.”
Dia masih mencoba merayu, tangannya turun ke pinggangku, menyentuh pinggiran sempak biru yang tipis itu. “Cuma tiga hari. Gak ada yang tahu. Badanmu udah siap banget, lihat tuh.”
Aku merasa tergoda. Sangat tergoda. Bagian bawahku sudah tegang, mendesak kain sempak. Tapi hati kecilku berontak. Aku membayangkan seorang perempuan di rumah ini, memakai cincin kawin yang sama, tidur di ranjang yang sama. Moodku langsung hilang total.
“Gue gak bisa,” kataku sambil mengenakan kaos sepenuhnya. Aku merapikan celana jeans, mengancingkannya cepat.
Dia masih berdiri di depan pintu, mencoba menghalangi.
“Kita janji mau ngentot malam ini,” desisnya.
“Janji batal,” jawabku dingin.
Aku mendorongnya pelan tapi tegas, melewatinya keluar kamar. Langkahku cepat menuju pintu depan. Di belakang, kudengar dia memanggil, tapi aku tak menoleh.
Malam terasa lebih dingin sekarang. Tubuhku masih panas karena sisa hasrat, tapi pikiranku jernih.
Aku berjalan menyusuri jalan sepi, angin malam menyapu wajah. Mungkin besok aku akan menyesal. Mungkin aku akan kembali membayangkan tubuhnya yang sempurna.
Tapi malam ini, aku memilih pergi. Karena ada batas yang tak mau kulewati, meski nafsu sudah membakar sampai ke tulang.
Aku terus berjalan, meninggalkan rumah itu dan bayangan sempak biru yang hampir saja terlepas sepenuhnya.
