Selamat Datang di Nara Kata Media

Sajian Sastra, Budaya, dan Pemikiran Kritis

Widget HTML #1

Ketika Sempak Kotor Semua


Aku membuka lemari pakaian dengan harapan menemukan sesuatu yang bersih. Tangan menyusuri tumpukan baju, tapi hasilnya nihil. Semua sempak sudah kotor. 

Aku mendesah, lalu melirik ke sudut kamar tempat tumpukan pakaian kotor menggunung. Benar saja. Hanya lima helai sempak yang kumiliki selama ini. Kukira itu cukup untuk kebutuhan sehari-hari.

Malam itu, setelah mandi, aku duduk di tepi kasur sambil memikirkan kebiasaanku. Aku biasa mencuci baju hanya sekali seminggu. 

Baju kaos, celana, dan kaus kaki masih bisa ditoleransi. Tapi sempak? Itu beda cerita. 

Harusnya diganti setiap hari, bahkan dua kali sehari kalau cuaca panas dan aktivitas banyak. Gesekan dengan celana jeans tanpa pelindung membuatku gelisah. 

Kulit terasa lengket, tidak nyaman, dan ada risiko iritasi yang lebih parah. Penis bisa tergores, meradang, atau bahkan terluka karena gesekan langsung dengan kain kasar.

Akhirnya aku sadar, sempak ideal itu minimal tujuh helai, atau bahkan sepuluh supaya ada cadangan. Lima helai jelas tidak masuk akal. Aku tidak mau keluar malam-malam hanya untuk beli. Pikiran pun melayang ke teman sekamar. Kami sudah tinggal bersama cukup lama. Mungkin dia punya cadangan.

Dengan sedikit ragu, aku mengetuk pintu kamarnya. “Bro, ada sempak cadangan nggak? Pinjem satu dong, besok aku cuci sekalian.”

Dia keluar dengan wajah bingung. 

“Sempak? Minjem sempak?”

Aku mengangguk. “Iya, kehabisan. Yang punya aku semua kotor.”

Reaksinya langsung aneh. Alisnya naik, matanya melebar seolah aku baru bilang hal yang tidak masuk akal. 

“Minjem sempak? Kok bisa? Kalau jaket atau sepatu masih wajar, tapi sempak? Itu kan langsung nempel di... situ. Pakaian paling pribadi.”

Aku mencoba menjelaskan dengan tenang. 

“Aku beneran nggak punya. Kalau pakai jeans tanpa sempak, rasanya geli banget. Gesekan langsung ke kulit, nggak nyaman. Bisa bikin iritasi, bahkan rusak. Aku cuma males keluar beli malam ini.”

Tapi dia malah semakin serius. Dia duduk di kursi, mulai ceramah panjang. 

“Kamu ini kenapa sih? Itu bukan hal biasa. Orang normal nggak minjem-minjem sempak orang lain. Kalau kamu punya fetish aneh-aneh, bilang aja. Jangan bikin aku ikut-ikutan dalam hal gini.”

Aku terdiam, antara kesal dan geli. Fetish? Aku cuma lupa mengatur jadwal cuci baju. Kebiasaan buruk yang sekarang memakan diri sendiri. 

Aku tidak punya niat aneh-aneh. Hanya ingin sesuatu yang bersih untuk menutupi bagian intim tubuhku agar besok bisa beraktivitas tanpa gangguan.

Dia tetap tidak mengizinkan. Bahkan menyarankan aku segera beli besok pagi. Aku kembali ke kamar dengan tangan kosong, akhirnya memilih memakai yang paling tidak kotor di antara lima helai itu. 

Malam itu aku tidur dengan pikiran berputar. Besok pagi, prioritas pertama adalah ke minimarket. Tidak ada lagi alasan untuk menunda. Lima helai sempak jelas pelajaran mahal yang kutemukan malam ini.

Keesokan harinya, aku membeli sepuluh helai sempak baru. Sekalian belajar dari kesalahan. Kebutuhan pribadi seperti ini tidak boleh dianggap remeh. 

Mulai sekarang, cuci baju bukan lagi sekali seminggu. Rutin setiap tiga hari, dan sempak selalu ada cadangan. Hidup terlalu pendek untuk gelisah karena hal sekecil itu.