Selamat Datang di Nara Kata Media

Sajian Sastra, Budaya, dan Pemikiran Kritis

Widget HTML #1

Sebulan Tinggal di Desa (2)



Beberapa hari kemudian, Egar mulai bosan dengan rutinitas pagi yang melelahkan. Setelah membantu Nenek menimba air dan membersihkan kandang ayam, ia memutuskan berjalan ke sungai yang tak jauh dari rumah. 

Sungai itu jernih sekali, airnya mengalir tenang di antara batu-batu licin. Nyamuk tak ada, sampah pun hampir tak terlihat—hanya daun-daun kering dari pohon-pohon di tepian yang ikut hanyut.

Sesampainya di sana, Egar melihat beberapa pemuda desa sedang berenang riang. Mereka telanjang bulat, kulit mereka kecokelatan terbakar matahari, otot-otot terbentuk alami dari kerja lapangan setiap hari. Tawa mereka pecah memecah kesunyian sungai.

“Hei, Mas Egar! Ikutlah, bro!” seru salah seorang yang paling tinggi, sambil melambai.

Egar ragu sebentar. Di Jakarta, ia biasa berenang di kolam renang mewah dengan celana renang branded. Tapi panas hari itu dan keringat yang menempel di tubuhnya membuatnya menyerah. 

Ia melepas kaus, celana pendek, lalu semuanya—kecuali sempak hijau gelap yang masih melekat di pinggulnya.

Begitu Egar melangkah ke air, para pemuda langsung bersorak.

“Wih, badannya bagus banget bro! Gym Jakarta emang beda ya!” puji yang satu sambil tertawa.

“Ganteng pula. Cocok jadi bintang sinetron!” tambah yang lain.

Egar tersenyum tipis, merasa agak bangga. Postur atletisnya yang terawat memang mencolok di antara mereka. Tapi tak lama kemudian, godaannya datang.

“Lepas aja sempaknya, Mas! Di sini biasa kok, nggak ada yang liat!” seru seorang pemuda sambil cipratan air.

“Iya, lepaskan! Malu apa? Kita semua sama!”

Egar menggeleng sambil tertawa. 

“Nggak usah, bro. Ini sudah cukup.”

Mereka langsung menggoda lebih keras. 

“Wah, kontolnya kecil ya? Makanya ditutupin!”

Ledekan itu disambut tawa lepas para pemuda. Egar hanya bisa geleng-geleng kepala sambil ikut tertawa. 

Di kota, ia mungkin akan marah atau balas dengan sombong. Tapi di sini, di tengah sungai yang segar, candaan itu terasa ringan dan persahabatan. Ia tak tersinggung. Malah, ia merasa lebih hidup.

Air sungai dingin dan jernih meresap ke kulit, membersihkan kotoran dan kepenatan yang lama menempel di tubuh dan pikirannya. 

Egar berenang, menyelam, lalu mengapung sambil memandang langit biru di atas. Tak ada suara klakson, tak ada notifikasi ponsel, hanya suara air mengalir dan tawa pemuda-pemuda desa.

Sore harinya, saat pulang dengan rambut masih basah, Nenek menyambutnya di teras dengan senyum nakal.

“Dari sungai ya? Muka cerah gitu. Sudah mulai betah di desa?”

Egar tersenyum malu-malu. 

“Lumayan, Nek. Ternyata… asyik juga.”

Ia duduk di bangku bambu, merasakan otot-ototnya yang pegal tapi segar. Hukuman Papa ini mulai terasa berbeda. Bukan lagi siksaan, melainkan pintu menuju sesuatu yang lebih sederhana dan jujur.