Selamat Datang di Nara Kata Media

Sajian Sastra, Budaya, dan Pemikiran Kritis

Widget HTML #1

Sebulan Harus Tinggal di Desa - Story



Malam itu menjadi titik balik. Egar mabuk berat setelah pesta di klub. Mobil mewahnya menabrak pagar rumah tetangga hingga ambruk. Kerugian puluhan juta rupiah harus ditanggung Papa. Keesokan paginya, di ruang kerja yang dingin, Papa memandangnya dengan tatapan kecewa.

“Kalau kayak gini, gimana kamu bisa memimpin perusahaan? Kerjaannya mabok melulu.”

Egar menunduk. Postur atletisnya yang biasa membuatnya percaya diri kini terasa kecil.

“Papa putuskan kamu tinggal sebulan di desa, di rumah Nenek.”

“Aku? Di desa? Papa gila? Nggak ada sinyal, nggak ada AC, nggak ada apa-apa!” protes Egar keras.

Papa tersenyum tipis. 

“Kalau nolak, kamu dihapus dari daftar penerus perusahaan. Dulu waktu kecil Papa juga tinggal di sana. Kamu di rumah Nenek selama sebulan, biar nenek ada temannya.”

Terpaksa Egar berkemas. Perjalanan sepuluh jam lebih bersama sopir terasa menyiksa. Begitu tiba di desa kecil di lereng gunung, sopir langsung balik. Egar berdiri sendirian dengan tas besar di depan rumah kayu sederhana.

“Nek…” panggilnya ragu.

Pintu terbuka. Nenek berusia 80 tahun muncul dengan senyum lebar. Tubuhnya kecil tapi tegap, matanya masih jernih.

“Egar! Cucuku yang ganteng datang!” Nenek memeluknya erat. Meski sudah tua, pelukannya hangat dan kuat.

Malam pertama terasa berat. Egar tidur di ranjang bambu sederhana tanpa AC. Udara pegunungan dingin menusuk tulang. Kamar kecil itu hanya diterangi lampu minyak cadangan saat listrik padam.

Pagi harinya, Nenek membangunkannya. “Ayo, Nak. Bantu Nenek timba air.”

Egar mengikuti dengan mata masih mengantuk. Sumur tua di belakang rumah memerlukan tenaga untuk memompa dan mengangkat ember. 

Postur atletisnya yang biasa dipamerkan di gym Jakarta ternyata tak banyak membantu di sini. Keringat bercucuran setelah beberapa kali angkat. 

Tangan halusnya yang biasa memegang gadget dan kemudi mobil mewah kini melepuh.

“Susah banget, Nek,” keluhnya.

Nenek hanya tertawa. “Dulu Papa kamu tiap pagi begini.”

Siang harinya, masakan Nenek sederhana: sayur asam, ikan asin goreng, dan sambal terasi. Tapi Egar makan dengan lahap. “Enak, Nek,” katanya sambil menyuap.

“Enak kan? Bukan karena masakannya, tapi karena lapar setelah kerja keras,” jawab Nenek sambil tersenyum.

Sore harinya, tugas baru datang. “Cari kayu bakar dong, Nak. Nenek mau masak malam.”

Di era serba canggih, Nenek masih setia memasak dengan kayu bakar. Egar berjalan ke pinggir hutan kecil di belakang rumah. Warga desa yang lewat meliriknya. 

Anak kota tampan, tinggi, berpostur atletis, dan berkulit cerah itu langsung menjadi perhatian. Beberapa gadis desa berbisik-bisik sambil tersipu.

Egar mengumpulkan ranting dan kayu kering dengan tangan yang masih terasa pegal. Saat kembali, ia melihat Nenek menunggu di teras sambil menyulam.

Malam itu, sambil duduk di teras mendengar suara jangkrik dan angin malam, Egar termenung. Apakah dia akan bisa bertahan selama sebulan? 

Lanjutkan:
Bagian 2
Bagian 3
Bagian 4 - Tamat