Selamat Datang di Nara Kata Media

Sajian Sastra, Budaya, dan Pemikiran Kritis

Widget HTML #1

Suamiku Seganteng ini | Cerita Pasutri




Cerita ini dimulai dari perjodohan yang awalnya terasa seperti kutukan. Aku, gadis biasa yang lumayan cantik dan seksi dengan tubuh ramping berlekuk, merasa terjebak. 

Tapi begitu melihat calon suamiku, semuanya berubah. Posturnya ideal, tinggi tegap dengan otot yang terbentuk alami, bukan hasil gym berlebihan. 

Wajahnya cakep manis, senyumnya lembut tapi ada aura maskulin yang bikin lutut lemas. Cewek mana yang bisa nolak spek kayak gini? Aku langsung jatuh hati.

Singkat cerita, kami menikah. Resepsi melelahkan, tamu datang silih berganti, tapi malam pertama justru aku yang hyper. 

Begitu masuk kamar hotel, aku langsung merangkulnya, mencium bibirnya dalam-dalam sambil tanganku merayap ke bawah, meremas kontolnya yang masih tertutup celana. 

"Ayo sayang, kita ngentot sekarang," bisikku sambil menggigit telinganya.

Dia menolak pelan, "Capek banget, besok aja ya." 

Tapi aku maksa. Aku dorong dia ke kasur, buka kancing bajunya sendiri, dan gesek-gesekkan tubuhku yang sudah basah ke pahanya. 

Akhirnya dia nyerah, menghela napas sambil mengeluarkan kondom dari laci.

"Kok pake kondom?" protesku kesal, sambil terus mengocok kontolnya yang mulai mengeras.

"Aku masih belum siap punya anak," jawabnya datar.

Aku tertawa kecil sambil menjelaskan, 

"Sayang, secara ilmiah, ngentot pertama kali belum tentu langsung hamil. Ovulasi wanita terjadi di tengah siklus menstruasi, sekitar hari ke-14. Sperma bisa bertahan di tubuh wanita sampai 5 hari, tapi telur hanya matang pada waktu tertentu. Probabilitas hamil di malam pertama rendah, apalagi kalau nggak pas timing. Banyak pasangan baru yang butuh berbulan-bulan sebelum berhasil. Jadi, aman kok tanpa kondom malam ini."

Tapi dia bersikeras. Aku gak sabar ngerasain kontolnya langsung, kulit ke kulit, panas dan berdenyut di dalam vaginaku. 

Tapi sepertinya dia tak begitu bergairah. Wajahnya datar, seperti cuma mengimbangi. Padahal aku merasa diri cukup cantik dan seksi—payudaraku kencang, pinggul lebar, dan aku sudah basah banget dari tadi.

Aku naik ke atasnya, memimpin semuanya. Aku gesekkan kepala kontolnya ke bibir vaginaku yang licin, lalu pelan-pelan turun, menelan batangnya yang keras dan tebal. 

"Ahh... gede banget," desahku. 

Dia cuma diam, tangannya memegang pinggangku sekadarnya. Sepanjang sesi, aku yang agresif—naik turun cepat, memutar pinggul, meremas dadanya sambil menciumi lehernya. 

Vaginaku sudah merembes basah, klimaks pertama datang cepat, tubuhku gemetar, cairan panas keluar membasahi selangkangan kami.

Dia tetap flat, tapi kontolnya luar biasa. Keras seperti batu, kaku tahan lama. Bahkan setelah aku orgasme kedua, lalu ketiga—sambil berteriak pelan dan mencengkeram sprei—dia masih sanggup bertahan. 

Aku acungi jempol dalam hati. Akhirnya dia keluar di dalam kondom, tapi aku masih haus.

Setelah nikah, hyperku tak berkurang sama sekali. Punya suami seganteng ini benar-benar privilege. Setiap pagi sebelum kerja, aku bangunin dia dengan blowjob, mengulum kontolnya sampai keras lalu naik ke pangkuannya. 

Siang hari kalau dia pulang, aku tarik ke kamar, ngentot cepat di sofa. Malam hari paling intens, dua atau tiga ronde. 

Aku yang selalu inisiatif, posisi apa saja—doggy sambil dia pegang pinggulku, missionary sambil kaki aku lingkar di pinggangnya, atau cowgirl sambil aku goyang liar.

Dia masih sering pake kondom, dan gairahnya terasa datar. Tapi aku nggak peduli. Aku puas jadi yang aktif, merasakan setiap denyut kontolnya yang tebal itu memenuhi vaginaku sampai penuh. 

Bau keringatnya, otot perutnya yang mengeras saat dorong, semuanya bikin aku ketagihan. Aku orgasme berkali-kali, tubuhku gemetar, cairan vaginaku banjir di setiap sesi. 

Kadang aku mikir, mungkin dia cuma tipe pendiam. Tapi buatku, ini surga. Suami ganteng, kontol top, dan aku bebas hyper setiap hari. 

Dua-tiga kali sehari jadi rutinitas manis. Aku nggak pernah bosan merangkul tubuh idealnya, mencium wajah manis itu, dan memuaskan nafsu yang tak pernah padam.