Badanmu Harus Tetap Atletis | Story
Aku selalu bilang ke Timo, “Bukan hal berat buatku bayarin langganan gym sama beliin suplemen bulanan buat kamu.”
Dan memang benar. Gaji Timo sebagai karyawan biasa memang pas-pasan. Kalau harus beli sendiri, suplemen whey, creatine, sama pre-workout itu pasti bikin dompetnya menjerit.
Tapi aku ingin badannya tetap ideal—otot dada bidang, perut rata yang keras, lengan berotot, dan bokong kencang yang enak dicengkeram.
Aku ingin dia tetap menggairahkan setiap kali naik ke atasku.
Timo top idamanku. Wajahnya cute, mata sipit manis, senyumnya polos. Tapi badannya atletis banget.
Dan kontolnya? Standar saja, bahkan cenderung kecil. Tapi justru itu yang bikin aku ketagihan.
Kontolnya kecil, tapi keras maksimal, seperti batu panas yang nggak kenal lelah.
Masuk ke lubangku yang selalu aku jaga bersih itu pas banget, nggak sakit, tapi penuh.
Dia tahan lama, bisa ngocok pinggulnya berjam-jam tanpa kecapekan.
Sudah hampir dua tahun kami jalanin ini. Aku kasih dia kebebasan: seminggu sekali, hari bebas.
Kalau lagi sibuk kerja, bisa dua kali sebulan atau bahkan sebulan sekali. Timo nggak pernah nolak. Dia tahu, ini deal yang saling menguntungkan.
Malam itu, setelah gym, Timo datang ke apartemenku dengan kaos ketat yang basah keringat.
Aromanya campur parfum maskulin dan bau badan cowok yang baru olahraga—bikin kontolku langsung ngaceng di dalam celana.
“Udah minum suplemennya?” tanyaku sambil meraba dada bidangnya.
“Iya, Bos,” jawabnya sambil nyengir cute. Dia panggil aku ‘Bos’ kalau lagi horny.
Aku langsung tarik dia ke kamar. Pakaian kami tercecer di lantai. Aku suka lihat Timo telanjang—kulit sawo matang mengkilap, otot perut yang naik-turun tiap napas.
Aku dorong dia ke kasur, lalu naik ke pangkuannya. Kontol kecilnya sudah berdiri tegak, kepala merah mengkilap precum.
Aku lumuri lubangku dengan lube, lalu pelan-pelan duduk di atasnya. “Ahh… enak banget,” desahku saat kontolnya masuk sepenuhnya. Pas banget.
Lubangku yang rapat memeluknya erat. Timo menggigit bibir bawahnya, tangannya mencengkeram pinggulku.
Aku mulai gerak naik-turun, pelan dulu, lalu semakin cepat. Suara plok-plok basah memenuhi kamar.
Timo mendongak, wajah cute-nya memerah, napasnya tersengal.
“Kenceng banget, Bos… enak.”
Aku pegang dada bidangnya, jari-jemariku meremas putingnya yang kecil keras.
Aku suka lihat dari bawah—badannya yang atletis berkeringat, otot lengan menonjol saat dia pegang pinggulku, perut six-pack yang bergoyang tiap dorongan.
Kontol kecilnya ngocok prostatku tanpa henti, bikin kepalaku pusing kenikmatan.
“Lebih kenceng, Tim,” pintaku. Dia langsung dorong pinggulnya ke atas, menusuk-nusuk lubangku dalam-dalam.
Aku jerit nikmat, kontolku yang besar loncat-loncat di perutnya, meninggalkan jejak precum yang licin.
Timo tahan lama. Dia balik posisi, angkat kakiku ke bahunya, lalu ngocokku dengan ritme stabil. Setiap hantaman, kontolnya menggesek dinding dalamku yang sensitif.
Aku pegang kepalanya, cium bibirnya yang manis sambil mendesah, “Terus… jangan berhenti…”
Keringat kami bercampur. Bau sex memenuhi ruangan. Timo semakin cepat, matanya setengah terpejam, wajah cute-nya penuh konsentrasi.
Akhirnya dia mendengus keras, kontolnya berdenyut di dalam lubangku, menyemburkan mani panas yang banyak. Aku ikut cum, menyemburkan sperma ke dada bidangnya.
Kami tergeletak berdampingan, napas ngos-ngosan. Aku usap perutnya yang masih keras, “Besok bayar langganan gym bulan depan ya.”
Timo cuma nyengir lelah, “Makasih, Bos.”
Dua tahun ini berjalan mulus. Aku dapat badan idaman yang selalu siap memuaskan lubangku.
Dia dapat badan tetap terjaga tanpa keluar duit banyak. Deal yang adil. Dan aku tahu, besok atau lusa, aku pasti minta lagi.
Karena kontol kecilnya yang keras dan tahan lama itu sudah jadi candu bagiku.
