Customer Boti
Aku cek alamatnya lagi di layar ponsel. Ah, dia lagi. Batinku langsung berdegup aneh.
Dua hari lalu aku sudah mengantar dua porsi ayam genjrot ke kos-kosan semi-elite itu. Hari ini pesanannya sama.
Dia selalu minta aku yang kirim. Lagipula kurir di resto ini cuma dua orang, dan aku kebagian shift sore setelah pulang kuliah. Emang ada yang lain?
Aku naik motor pelan-pelan, angin sore menyapu wajah. Pikiranku melayang ke pengiriman sebelumnya.
Dua hari lalu, dia minta aku naik tangga sampai depan kamar. Pintu terbuka setengah, dia hanya memakai sempak ketat thong berwarna merah.
Badannya tinggi, kulit putih mulus, dada bidang tanpa cela. Aku buru-buru menyerahkan paket sambil menunduk, tapi mataku tak bisa bohong.
Beberapa hari sebelum itu, dia memesan lagi. Kali ini singlet tipis dan sempak hitam biasa. Otot lengannya terlihat jelas saat mengambil uang. Aku pulang dengan pikiran yang tak tenang.
Hari ini, adegan apa lagi yang akan aku lihat?
Sesampainya di depan kos, aku hubungi nomornya seperti biasa.
“Sudah di depan, Bang.”
“Naik aja ke atas,” jawabnya singkat.
Aku mendesah. SOP resto jelas: kurir hanya sampai depan pintu, demi keamanan. Tapi dia selalu memaksa. Aku tolak halus, tapi pintu kamar langsung terbuka lebar.
“Kenapa sih gak mau masuk?” tanyanya agak kesal, suaranya dalam.
“Maaf, Bang,” jawabku sambil menyodorkan dua bungkus plastik hangat.
Dia tidak langsung ambil. Tubuhnya berdiri di ambang pintu, hanya memakai sempak ketat warna hitam yang sangat minim.
Kain tipis itu membungkus ketat bagian depannya, memperlihatkan bentuk yang jelas. Badannya benar-benar muscle—dada bidang penuh otot gym, perut six-pack yang terukir jelas, lengan dan paha tebal berisi.
Kulitnya putih mulus, sedikit berkeringat seperti baru selesai olahraga. Aroma sabun mandi samar-samar tercium.
Dia maju selangkah mendekatiku. Jarak kami tinggal sedekat tangan. Aku bisa melihat bulu halus di dadanya, dan tatapannya yang tajam menelusuri wajahku.
Tangannya menyentuh bungkus makanan, sengaja menyapu jemariku saat mengambilnya. Uang dibayarkan dengan lembaran yang masih hangat dari genggamannya.
“Terima kasih,” katanya pelan, senyum kecil di bibir.
Aku mundur cepat, jantung berdegup kencang. “Sama-sama, Bang.”
Aku langsung turun tangga, naik motor, dan gas ke resto. Sepanjang jalan, otakku tak berhenti. Kenapa tiap kali aku anter ke sana, dia cuma pakai sempak doang?
Kami sesama cowok, tapi ada sensasi aneh yang membuatku gelisah. Aku bukan anak kecil, tapi ini… berbeda.
Sesampainya di resto, aku parkir motor dan masuk ke belakang. Rekan kerjaku sedang membersihkan meja.
Aku berdiri di depan cermin kecil di ruang ganti, memperhatikan wajahku yang masih merah, lalu melepas rompi kerja.
Tubuhku biasa saja—kurus tapi cukup atletis dari naik motor bolak-balik.
“Kamu ngapain ngaca lama gitu?” tanya rekan kerjaku sambil tertawa.
Aku menoleh. “Menurutmu aku cakep gak sih?”
Dia ketawa lebih keras, lalu menepuk pundakku pelan.
“Kamu cakep banget, bro. Jujur deh.”
Aku tersenyum tipis, tapi pikiranku kembali ke pria di kos itu. Apa dia sengaja? Apa dia boti? Atau cuma kebetulan?
Tiap kali aku datang, tatapannya seperti menantang, tubuhnya terpampang begitu terbuka. Aku merasa ada tarikan aneh di dada. Malu, tapi juga… penasaran.
Malam itu, saat pulang ke kosanku sendiri, aku berbaring di kasur. Bayangan sempak hitam ketat itu tak mau hilang. Otot-ototnya yang mengkilap, jari yang sengaja menyentuhku. Aku menggeleng, mencoba menepis.
Tapi dalam hati, aku tahu besok kalau ada order ke alamat itu lagi, aku tak akan menolak naik ke atas.
Mungkin ini awal dari sesuatu yang tak terduga. Atau mungkin hanya khayalan kurir sore yang kelelahan. Tapi sensasi hangat di tubuhku bilang lain.
