Selamat Datang di Nara Kata Media

Sajian Sastra, Budaya, dan Pemikiran Kritis

Widget HTML #1

Lupa pake kond*m



Sepulang sekolah siang itu, panas matahari masih menyengat badan. Vhy tiba-tiba menarik tanganku di koridor yang mulai sepi. 

Kerling matanya nakal, bibirnya melengkung kecil. Aku langsung paham. Tanpa banyak kata, kami berjalan menuju kosnya yang cuma lima menit dari gerbang sekolah. 

Kos bebas campur, laki-laki perempuan tinggal bareng, bahkan pasutri kecil-kecilan juga ada. Pintu kamarnya berderit pelan saat dibuka.

Begitu masuk, Vhy langsung melepas seragam atasnya. Hanya menyisakan BH pink tipis yang membungkus payudaranya dengan sempurna. 

Bentuknya bulat kencang, putingnya samar terlihat di balik kain. Aku langsung ngaceng keras di balik celana. 

Dia tertawa kecil, menyodorkan segelas air dingin dari kulkas kecil. 

“Minum dulu, biar nggak kehausan,” katanya sambil mengedip.

Tapi dia nggak kasih kesempatan aku minum lama. Vhy langsung naik ke pangkuanku di kursi kayu itu. 

Tubuhnya hangat, wanginya campur keringat sekolah dan sabun mandi. 

Aku langsung menenggelamkan wajahku di antara lekukan payudaranya. Aku mengendus dalam-dalam, menghirup aroma manis kulitnya yang sedikit asin. 

Lidahku menjilat pelan di celah tengahnya, membuat Vhy mendesah pelan. 

“Enak ya…?” bisiknya sambil menggoyang pinggulnya pelan di atas kontolku yang sudah tegang maksimal.

Foreplay pun memanas. Tanganku meremas payudaranya dari luar BH, lalu melepas kaitannya. Kedua buah dadanya bebas, putingnya sudah mengeras. 

Aku menghisap satu, menggigit pelan, sementara tangan satunya turun ke roknya, meraba celana dalam yang sudah basah. 

Vhy menggeliat, napasnya memburu. Dia mulai membuka satu per satu kancing seragamku. Dada bidangku terbuka, otot lenganku yang terlatih terlihat jelas. 

“Muscle banget,” bisiknya sambil membelai dada dan perutku dengan tangan lembutnya. Jarinya menelusuri garis otot, membuat bulu kudukku berdiri.

Aku nggak tahan lagi. Dadaku berdegup kencang, hasrat sudah menguasai sepenuhnya. Aku angkat tubuh Vhy, baringkan di kasur sempitnya. 

Roknya kugulung ke atas, celana dalamnya kutarik ke samping. Kontolku yang sudah basah oleh precum langsung kujepit di bibir vaginanya yang licin. 

Dengan satu dorongan pelan, aku masuk. Vhy mengerang, kuku jarinya mencengkeram punggungku. Aku pompa semakin cepat, basahnya vaginanya meluber keluar, membasahi selangkangan kami berdua. 

Suara bedebuk daging bertemu daging memenuhi kamar kecil itu. Vhy mendesah liar, pinggulnya naik turun menyambut setiap tancapan. 

“Terus… lebih dalam,” pintanya sambil matanya setengah terpejam.

Aku semakin gila. Kontolku berdenyut di dalamnya, vaginanya berdenyut balik, cairannya semakin banyak. 


Kami berdua klimaks hampir bersamaan. Aku menyembur panas di dalamnya, tubuhku mengejang kuat.

Baru setelah napas kami mulai tenang, kami sadar. 

“Shit… aku lupa pakai kondom,” gumamku. 

Vhy langsung kecewa. Wajahnya berubah. Dia cepat-cepat merangsek tubuhnya ke belakang, membuat kontolku terlepas dari vaginanya yang masih berdenyut. Cairan putihku menetes keluar dari lubangnya yang merah basah.

“Aku minta maaf, Vy… terlalu nafsu,” kataku pelan, merasa bersalah.

Vhy hanya diam. Dia duduk di pinggir kasur, memeluk lututnya. Matanya agak kosong, mungkin sedang khawatir kalau ada spermaku yang lolos dan membuahi sel telurnya. 

Udara kamar yang tadi panas mendadak terasa dingin. Kami berdua terdiam, hanya suara kipas angin kecil yang berputar pelan.