Ngac*ng Setelah Lari
Adeet melangkah pelan keluar lintasan. Napasnya masih terengah, dada naik-turun cepat, keringat menetes dari pelipis ke rahang lalu jatuh ke dada yang basah.
Celana pendek hitamnya menempel ketat di paha, dan di bagian depan sudah terlihat jelas tonjolan yang mengeras. Ia tidak heran.
Setiap kali selesai lari jarak menengah, hal yang sama selalu terjadi. Darah mengalir deras ke seluruh tubuh, nitric oxide melebarkan pembuluh, dan penisnya langsung bereaksi seolah punya nyawa sendiri.
Yongki sudah menunggu di bawah pohon rindang, juga masih mengenakan kaos tanpa lengan yang basah kuyup. Otot lengannya berkilau. Matanya langsung menatap selangkangan Adeet.
“Lagi,” kata Yongki pelan, suaranya serak. “Setiap habis lari selalu begini. Sange banget, ya?”
Adeet hanya mengangguk. Ia tidak bisa bohong. Libidonya melonjak tajam. Testosteron masih tinggi, endorfin masih berputar di kepala, dan sistem saraf parasimpatisnya sudah mengambil alih. Ereksi yang tadinya hanya setengah kini berdiri penuh, menekan kain celana sampai hampir sakit.
Yongki melangkah mendekat. Tanpa banyak bicara ia meraih pinggang Adeet dan menariknya hingga dada mereka saling menempel. Keringat bercampur. Bau tubuh masing-masing memenuhi hidung. Yongki meremas pantat Adeet kuat-kuat sambil menggosokkan penisnya yang juga sudah keras ke perut Adeet.
“Gila… masih panas banget,” gumam Yongki.
Tangannya masuk ke dalam celana Adeet tanpa izin. Jari-jarinya langsung memegang batang yang basah oleh pre-cum.
“Lihat ini. Uratnya ngejreng semua. Emang bener kata orang, habis olahraga kontol jadi lebih gampang ngaceng.”
Adeet mengerang pelan. Ia membalas dengan menarik turun celana Yongki. Penis Yongki melesat keluar, tebal, agak melengkung ke atas, kepala sudah mengkilap.
Adeet berlutut di rumput. Lidahnya langsung menjilat dari pangkal sampai ujung, mengecap asin keringat dan cairan yang sudah menetes. Yongki menahan napas, jari-jarinya mencengkeram rambut Adeet.
“Hisap lebih dalam,” perintah Yongki. “Aku mau kamu telan sampe tenggorokan.”
Adeet menurut. Mulutnya terbuka lebar, menelan seluruh batang sampai hidungnya menempel di perut Yongki. Ludah menetes dari sudut bibir.
Ia mengulum dengan rakus, lidah berputar di bawah kepala, lalu menarik keluar hanya untuk menjilat lubang kencing yang sudah basah. Yongki mengerang keras, pinggulnya maju-mundur pelan, menyetubuhi mulut Adeet.
Setelah beberapa saat Yongki menarik Adeet berdiri. Ia memutar tubuh Adeet, mendorongnya hingga kedua tangan Adeet bertumpu di batang pohon.
Celana Adeet diturunkan sampai lutut. Yongki berlutut di belakang, memisahkan pantat Adeet, dan langsung menjilat lubang yang masih berkeringat. Lidahnya menusuk masuk, membasahi, mempersiapkan.
“Enak banget baunya,” gumam Yongki di sela jilatan. “Keringat campur kontol… bikin gila.”
Adeet menggigit bibir, pantatnya mendorong ke belakang meminta lebih. Yongki berdiri, meludahi telapak tangannya, mengolesi penisnya yang sudah sangat keras, lalu menempelkan kepala di lubang Adeet.
Tanpa basa-basi ia mendorong masuk perlahan. Adeet meraung. Rasa penuh yang panas dan tebal langsung memenuhi ususnya.
Yongki tidak menunggu lama. Ia mulai menggenjot. Awalnya pelan, dalam, lalu semakin cepat dan kasar. Bunyi kulit bertemu kulit memenuhi udara. Setiap hentakan membuat penis Adeet yang menggantung bergoyang dan meneteskan cairan ke rumput. Yongki meraih batang itu dari depan, memompa seirama sodokannya.
“Krang… lebih dalam,” desah Adeet. “Pukul prostatnya… aaah!”
Yongki menurut. Sudutnya diubah sedikit. Kepala penisnya terus menghantam titik itu. Adeet gemetar.
Matanya memejam, mulut terbuka, air liur menetes. Yongki mempercepat tempo, tangan satunya mencubit puting Adeet yang mengeras, memelintirnya kasar.
“Mau keluarin di dalem?” tanya Yongki sambil terus menumbuk.
“Iya… isi aja… penuhin,” jawab Adeet putus-putus.
Yongki menggeram. Beberapa hentakan terakhir yang dalam dan brutal, lalu ia menanam penisnya sedalam mungkin dan meledak. Sperma panas menyembur deras memenuhi rektum Adeet.
Adeet ikut klimaks detik itu juga. Penisnya menyemprot tanpa disentuh, membasahi rumput di bawahnya dalam beberapa denyutan kuat.
Mereka diam beberapa saat, masih menyatu, napas memburu. Yongki pelan-pelan menarik keluar. Sperma putih kental langsung menetes dari lubang Adeet yang semi terbuka, mengalir turun ke paha.
Yongki berlutut lagi, menjilat sisa-sisa yang keluar, lalu berdiri dan memutar Adeet. Mereka berciuman basah, saling mengecap rasa masing-masing. Tangan masih saling meraba, memegang penis yang masih setengah keras.
“Besok lari lagi,” bisik Yongki di telinga Adeet sambil menggigit cupingnya. “Biar kontol kita sama-sama gila lagi.”
Adeet tersenyum miring, masih terengah. “Siap. Tapi lain kali aku yang ngewe kamu habis lari.”
Yongki tertawa pelan, tangannya kembali meremas pantat Adeet yang masih basah sperma. “Deal. Asal jangan pelan-pelan.”
Mereka berdua duduk di rumput, bahu saling bersandar, penis masih telanjang dan mengkilap. Angin sepoi-sepoi mengeringkan keringat di tubuh. Ereksi perlahan turun, tapi libido belum sepenuhnya padam. Adeet sesekali masih meraba batang Yongki, Yongki membalas dengan mengusap kepala penis Adeet yang sensitif.
Tidak ada yang bilang apa-apa lagi. Hanya napas yang pelan-pelan normal, dan rasa puas yang masih berdenyut di selangkangan masing-masing. Olahraga pagi ini memang selalu berakhir seperti ini. Dan keduanya tidak pernah mengeluh.
