Coba perhatikan sekitar. Cowok usia 20–30 tahun sekarang, banyak yang sudah punya “tas depan” permanen. Bukan cuma sedikit, tapi masif.
Padahal kalau kita bandingkan dengan dokumentasi foto pria sebelum tahun 1960—entah petani, buruh, tentara, atau pegawai—perut rata adalah standar, bahkan saat usia mereka sudah kepala empat.
Ini bukan nostalgia buta. Secara ilmiah, ada perubahan lingkungan, gaya hidup, dan tekanan biologis yang nyata.
Buncit bukan soal malas semata, tapi hasil akumulasi kebiasaan modern. Berikut tiga faktor utama yang menjelaskan kenapa pria sekarang rata-rata lebih buncit dibanding pria zaman dulu.
Faktor pertama adalah turunnya aktivitas fisik harian. Zaman dulu, bergerak itu keharusan, bukan pilihan.
Jalan kaki jauh, mengayuh sepeda, mengangkat barang, mencangkul, atau kerja manual adalah bagian dari hidup. Kalori terbakar tanpa perlu niat “olahraga”.
Sekarang? Aktivitas fisik digantikan mesin. Motor, mobil, lift, eskalator, pesan makanan lewat aplikasi, kerja depan layar berjam-jam.
Tubuh manusia masih membawa “software biologis lama” yang butuh gerak, tapi lingkungannya berubah drastis.
Akibatnya, kalori yang masuk tidak seimbang dengan yang keluar.
Lemak pun menumpuk, dan pada pria, lokasi favoritnya adalah perut karena pengaruh hormon testosteron dan sensitivitas insulin.
Gym memang tren, tapi tetap kalah jam terbang dibanding aktivitas fisik alami yang dulu dilakukan seharian penuh.
Faktor kedua adalah asupan makan yang jauh lebih sering dan lebih padat energi.
Orang sekarang bukan cuma makan lebih banyak, tapi makan lebih sering.
Makan besar, ditambah camilan, minuman manis, kopi susu, snack malam, dan “cuma ngemil dikit” yang sebenarnya setara satu porsi makan.
Makanan modern didominasi produk olahan: tinggi gula, lemak jenuh, karbohidrat cepat serap, dan rendah serat.
Zaman dulu, makan itu butuh usaha dan waktu. Menanak nasi lama, lauk sederhana, jarang gula rafinasi, dan hampir tidak ada minuman manis kemasan.
Tubuh pria modern dibanjiri energi cepat, tapi tidak diberi kesempatan membakarnya.
Kombinasi ini membuat insulin sering melonjak, lemak mudah disimpan, dan perut makin menonjol meski lengan dan kaki tetap kecil.
Faktor ketiga, yang sering diremehkan, adalah tekanan hidup dan stres kronis.
Stres bukan cuma urusan mental. Ia punya efek biologis nyata. Saat stres berkepanjangan, tubuh meningkatkan hormon kortisol.
Kortisol mendorong penyimpanan lemak, terutama di area perut, karena area ini paling responsif terhadap sinyal stres.
Tekanan hidup era sekarang lebih kompleks: tuntutan ekonomi, kompetisi sosial, standar sukses di media sosial, pekerjaan tak kenal jam, dan spiritualitas yang makin tipis.
Banyak pria melampiaskan stres dengan makan, minum manis, atau konsumsi hiburan instan berbasis dopamin.
Hasilnya adalah fenomena “skinny fat”: tubuh terlihat kurus, tapi perut buncit.
Bukan karena kurang tampan, tapi karena metabolisme kacau.
Pria zaman sekarang tidak lebih lemah, mereka hidup di lingkungan yang membuat buncit jadi default.
Kabar baiknya, lingkungan bisa dilawan dengan kesadaran. Tubuh selalu jujur—ia cuma mengikuti kebiasaan yang kita beri setiap hari.
