Header Ads Widget



Kalau makan sate kambing tanpa irisan bawang merah, rasanya seperti nonton film action tanpa suara ledakan: tetap jalan, tapi hambar dan kurang greget. 

Banyak orang mengira bawang merah cuma pelengkap rasa dan aroma. 

Padahal secara ilmiah, irisan bawang merah punya peran serius dalam membantu tubuh “menghadapi” daging kambing yang berat, berlemak, dan menantang metabolisme.

Mari kita bahas tanpa drama, tapi tetap berbasis sains.

-00-

Pertama, bawang merah membantu pencernaan lemak. Daging kambing mengandung lemak jenuh yang butuh kerja ekstra dari empedu dan enzim pencernaan. 

Bawang merah mengandung senyawa sulfur alami yang merangsang produksi cairan empedu. 

Artinya, lemak lebih mudah dipecah, bukan numpuk diam-diam di perut. 

Efeknya tidak instan kurus, tapi jelas mengurangi rasa “eneg” dan begah setelah makan sate.

-00-

Kedua, efek antiinflamasi dan antioksidan. Bawang merah kaya quercetin, flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan kuat. 

Saat kamu makan sate kambing, tubuh memproses protein dan lemak tinggi yang bisa memicu stres oksidatif ringan. 

Quercetin membantu meredam peradangan mikro ini. Bahasa kasarnya: bawang merah ikut jadi bodyguard metabolik.

-00-

Ketiga, mengontrol lonjakan kolesterol pasca makan. Lemak hewani bisa meningkatkan kadar LDL (kolesterol jahat) jika dikonsumsi berlebihan dan sering. 

Beberapa studi nutrisi menunjukkan senyawa aktif dalam bawang merah dapat membantu menghambat oksidasi LDL. 

Ini penting, karena LDL yang teroksidasi lebih berbahaya bagi pembuluh darah. 

Jadi bawang merah bukan menurunkan kolesterol secara ajaib, tapi membantu mencegah kerusakan lanjutan.

-00-

Keempat, bantu stabilkan gula darah, terutama jika sate dimakan dengan lontong atau nasi. 

Bawang merah punya indeks glikemik rendah dan serat larut yang memperlambat penyerapan gula. 

Kombinasi daging, kecap manis, dan karbohidrat cepat serap bisa bikin gula darah naik lebih cepat.

 Irisan bawang merah berperan sebagai rem, bukan rem ABS, tapi cukup membantu.

-00-

Kelima, efek antibakteri alami. Daging bakar yang tidak selalu steril 100% berisiko membawa bakteri ringan. 

Senyawa allicin dalam bawang merah memiliki sifat antibakteri alami. Ini bukan jaminan kebal diare, tapi jelas lebih baik daripada makan sate polos tanpa “pengaman biologis”.

Lalu, berapa banyak bawang merah yang ideal? Jawabannya sederhana: jangan pelit. 

Sekitar 1–2 siung bawang merah ukuran sedang, diiris tipis, sudah cukup memberi manfaat. 

Tidak perlu sampai bau napas bikin orang lain mundur perlahan.

-00-

Irisan bawang merah saat makan sate kambing bukan hiasan estetika atau tradisi kosong. 

Ia bekerja di balik layar: membantu pencernaan, melindungi pembuluh darah, meredam inflamasi, dan membuat tubuh lebih rasional menghadapi lemak kambing. 

Jadi lain kali, kalau ada yang nyingkirkan bawang merah dari piring sate, itu bukan selera—itu keputusan metabolik yang merugikan.

Post a Comment

Kasih koment di sini bro, met nikmatin isi blognya ya, keep safety