Topik ini sering dibicarakan pelan-pelan, tapi dicari rame-rame.
Soal penis, banyak pria penasaran: kapan sebenarnya berhenti berkembang, apakah masih bisa berubah setelah dewasa, dan apakah minyak atau obat pembesar itu beneran kerja atau cuma janji manis iklan tengah malam.
Mari kita luruskan pakai sains.
Secara biologis, pertumbuhan penis terjadi bersamaan dengan pubertas.
Pubertas pada pria umumnya dimulai sekitar usia 9–14 tahun dan selesai di rentang 16–21 tahun.
Di fase ini, hormon testosteron naik drastis. Testosteron inilah “mandor proyek” yang mengatur pembesaran penis, testis, suara jadi berat, dan otot mulai muncul.
Mayoritas penelitian menunjukkan bahwa penis berhenti tumbuh panjang dan besar maksimal di usia sekitar 18–21 tahun.
Setelah itu, ukurannya relatif stabil. Tidak tiba-tiba nambah sentimeter hanya karena ulang tahun ke-25 atau rajin ngopi pahit.
Lalu muncul pertanyaan lanjutan: apakah setelah dewasa penis masih “fleksibel”? Jawabannya: fleksibel, tapi bukan dalam arti tumbuh permanen.
Penis tersusun dari jaringan spons (corpora cavernosa dan corpus spongiosum) yang bisa terisi darah.
Karena itu, ukuran penis bisa tampak berbeda tergantung kondisi: suhu dingin, stres, kelelahan, hingga gairah seksual. Itulah kenapa ada istilah grower dan shower.
Ada yang kecil saat lemas tapi signifikan saat ereksi, ada juga yang dari awal sudah kelihatan besar. Ini variasi normal, bukan masalah.
Yang penting dipahami: perubahan ini sementara, bukan pertumbuhan struktural baru.
Sekarang bagian paling ramai diperdebatkan: minyak, krim, pil, atau obat pembesar penis. Di iklan, hasilnya dramatis. Di dunia ilmiah? Sunyi.
Hingga saat ini, tidak ada bukti ilmiah kuat bahwa minyak oles, krim herbal, atau obat oral bisa memperbesar penis secara permanen.
Zat oles paling banter hanya memberi efek hangat, meningkatkan aliran darah sesaat, atau bikin kulit terasa lebih “kenyal”. Itu efek sementara, bukan perubahan ukuran anatomis.
Obat minum yang dijual bebas juga bermasalah. Banyak yang tidak jelas kandungannya, sebagian bahkan dicampur obat keras tanpa takaran aman.
Alih-alih membesar, yang ada justru risiko gangguan hormon, tekanan darah, hingga kerusakan hati. Penis tetap segitu, dompet dan kesehatan yang mengecil.
Dalam dunia medis, satu-satunya metode yang bisa mengubah ukuran penis secara struktural adalah operasi tertentu atau alat traksi medis, itupun dengan hasil terbatas, risiko tinggi, dan biasanya dilakukan atas indikasi medis, bukan kosmetik iseng.
-00-
Penis berhenti berkembang maksimal di akhir pubertas, sekitar usia 18–21 tahun.
Setelah itu, ukurannya tidak bertambah permanen, meski bisa tampak berubah tergantung kondisi tubuh.
Minyak dan obat pembesar penis yang dijual bebas lebih dekat ke mitos daripada sains.
Ironisnya, banyak studi justru menunjukkan bahwa kepuasan seksual lebih dipengaruhi kesehatan fisik, hormon, kepercayaan diri, dan komunikasi, bukan angka di penggaris.
Alam tidak ceroboh saat mendesain tubuh. Yang sering kurang justru rasa cukup—dan literasi sains.
Pengetahuan yang benar memang tidak menjual mimpi, tapi setidaknya menyelamatkan logika dan kesehatan.
