Header Ads Widget



Daun kelor sering disebut “sayur orang kampung”, tumbuh liar, murah, bahkan kadang gratis. 

Tapi sains modern justru mengangkat alis: ini daun kecil kok isinya ramai sekali. 

Apakah daun kelor layak dimakan setiap hari, aman dikonsumsi sebelum nasi, dan bagaimana cara mengolahnya agar gizinya tidak kabur ke panci?

Secara gizi, daun kelor termasuk kelas berat. Ia mengandung protein nabati, serat, vitamin A, C, E, kalsium, zat besi, serta senyawa antioksidan seperti flavonoid dan polifenol. 

Kombinasi ini membuat kelor sering dipakai dalam studi nutrisi untuk membantu mengatasi kekurangan gizi dan peradangan ringan. 

Untuk ukuran sayur harian, kelor bukan sekadar “cukup layak”, tapi sangat layak—dengan catatan porsi dan cara olahnya benar.

Soal dimakan setiap hari, jawabannya: bisa. 

Daun kelor aman dikonsumsi rutin dalam jumlah wajar, misalnya satu mangkuk kecil per porsi. 

Kandungan seratnya membantu pencernaan, sementara antioksidannya mendukung kesehatan metabolik. 

Yang perlu dihindari adalah konsumsi berlebihan dalam bentuk ekstrak atau suplemen tanpa pengawasan, karena dosis pekat berbeda cerita dengan sayur rumahan.

Menariknya, daun kelor justru ideal dimakan sebelum nasi. Alasannya ilmiah, bukan mitos. 

Serat pada kelor memperlambat penyerapan glukosa di usus. Artinya, saat nasi masuk belakangan, lonjakan gula darah cenderung lebih terkendali. 

Prinsip ini sejalan dengan konsep “food order” dalam ilmu gizi modern: sayur dulu, karbohidrat belakangan. 

Efeknya pelan tapi nyata, terutama bagi yang ingin menjaga berat badan atau sensitivitas insulin.

Lalu soal pengolahan—ini bagian yang sering bikin kandungan gizinya menyerah. 

Vitamin C dan sebagian antioksidan kelor sensitif terhadap panas berlebih. 

Merebus terlalu lama sampai daun berubah warna dan tekstur berarti banyak nutrisi ikut pamit. 

Cara terbaik adalah blanching singkat: celupkan daun kelor ke air mendidih 1–2 menit, lalu angkat. 

Bisa juga ditumis cepat dengan sedikit minyak dan api kecil, atau dimasukkan terakhir ke dalam sayur bening.

Hindari memanaskan berulang-ulang. Kelor bukan tipe sayur yang betah dipanaskan tiga kali sambil nunggu nasi matang. Perlakukan ia dengan hormat—masak singkat, makan segar.

Daun kelor cerdas dimakan sebelum nasi, dan efektif jika diolah dengan cara yang tidak brutal. 

Daun kecil, manfaat besar. Kadang yang diremehkan justru paling bekerja keras.

Post a Comment

Kasih koment di sini bro, met nikmatin isi blognya ya, keep safety