Puasa secara biologis adalah latihan metabolik yang unik. Tubuh dipaksa beradaptasi dengan kondisi tanpa asupan energi selama belasan jam.
Dalam teori fisiologi, kondisi ini seharusnya membantu tubuh membakar cadangan energi, termasuk lemak.
Namun, pada kenyataannya, banyak orang justru mengalami kenaikan berat badan selama bulan puasa.
Fenomena ini bukanlah keajaiban, melainkan hasil dari ketidakseimbangan antara asupan energi dan pengeluaran energi.
Secara ilmiah, berat badan ditentukan oleh prinsip dasar yang disebut energy balance atau keseimbangan energi.
Jika kalori yang masuk lebih besar daripada kalori yang dibakar, tubuh akan menyimpan kelebihan tersebut sebagai lemak.
Puasa tidak otomatis menyebabkan penurunan berat badan jika pola makan dan gaya hidup tidak mendukung.
1. Jumlah Makan Tidak Berkurang, Bahkan Bertambah
Kesalahan paling umum adalah menganggap puasa sebagai “izin makan bebas” saat berbuka.
Setelah menahan lapar seharian, banyak orang mengonsumsi makanan dalam jumlah besar sekaligus.
Tidak hanya makan utama, tetapi juga camilan, minuman manis, dan makanan penutup.
Tubuh manusia sebenarnya memiliki mekanisme adaptasi yang efisien.
Ketika tubuh mengalami periode lapar, hormon ghrelin (hormon lapar) meningkat.
Akibatnya, nafsu makan saat berbuka menjadi lebih tinggi. Jika tidak dikontrol, total kalori harian justru bisa melebihi hari biasa.
Selain itu, makan dalam waktu singkat membuat tubuh tidak memiliki cukup waktu untuk mengirim sinyal kenyang.
Hormon leptin, yang memberi sinyal kenyang, bekerja dengan jeda waktu sekitar 15–20 menit.
Makan terlalu cepat membuat seseorang mengonsumsi kalori berlebih sebelum merasa kenyang.
2. Aktivitas Fisik Menurun Drastis
Puasa sering dijadikan alasan untuk mengurangi aktivitas fisik. Banyak orang menjadi lebih pasif, mengurangi olahraga, bahkan aktivitas harian seperti berjalan kaki pun berkurang.
Padahal, pengeluaran energi harian sangat bergantung pada aktivitas fisik.
Tubuh memiliki komponen yang disebut Total Daily Energy Expenditure (TDEE), yaitu jumlah total energi yang dibakar setiap hari.
Salah satu komponen terbesar TDEE adalah aktivitas fisik. Ketika aktivitas menurun, pembakaran kalori ikut menurun.
Sebagai contoh, seseorang yang biasanya membakar 2.000 kalori per hari bisa turun menjadi 1.600 kalori karena kurang bergerak.
Jika asupan kalori tetap sama atau meningkat, kelebihan energi akan disimpan sebagai lemak.
Selain itu, kurangnya aktivitas fisik juga memperlambat metabolisme. Otot adalah jaringan aktif yang membantu membakar kalori.
Jika tubuh jarang digunakan, efisiensi metabolisme menurun, sehingga tubuh cenderung menyimpan energi.
3. Konsumsi Gula dan Lemak Berlebihan Saat Berbuka
Berbuka puasa identik dengan makanan manis dan berlemak, seperti gorengan, minuman sirup, es teh manis, dan makanan olahan tinggi kalori.
Gula sederhana memiliki efek cepat menaikkan kadar glukosa darah.
Lonjakan gula darah ini memicu pelepasan insulin, hormon yang membantu memasukkan glukosa ke dalam sel.
Namun, insulin juga memiliki efek samping: mendorong penyimpanan lemak dan menghambat pembakaran lemak.
Lemak dari makanan gorengan juga sangat padat kalori. Satu gram lemak mengandung sekitar 9 kalori, lebih dari dua kali lipat dibandingkan karbohidrat dan protein yang hanya 4 kalori per gram.
Kombinasi gula tinggi dan lemak tinggi adalah “formula sempurna” untuk penambahan berat badan, terutama jika dikonsumsi secara rutin setiap hari selama bulan puasa.
Puasa Tetap Bisa Menurunkan Berat Badan Jika Dilakukan dengan Benar
Secara ilmiah, puasa sebenarnya memiliki potensi besar untuk membantu pembakaran lemak. Setelah sekitar 8–12 jam tanpa makan, tubuh mulai beralih dari menggunakan glukosa ke menggunakan lemak sebagai sumber energi, proses yang disebut lipolysis.
Namun, manfaat ini bisa hilang jika asupan kalori berlebihan, aktivitas fisik rendah, dan pola makan tidak terkontrol.
Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi juga melatih disiplin metabolik. Tubuh adalah sistem yang jujur.
Ia tidak peduli apakah kalori masuk saat siang atau malam. Ia hanya menghitung total energi. Jika yang masuk lebih banyak daripada yang keluar, tubuh akan menyimpannya.
Dalam konteks evolusi, tubuh manusia memang dirancang untuk bertahan hidup, bukan untuk terlihat ramping. Ia akan menyimpan energi setiap kali ada kesempatan.
Puasa memberi peluang untuk membakar cadangan, tetapi hanya jika manusia tidak “membalas dendam” dengan makan berlebihan setelahnya.
