Berbuka puasa adalah momen penting untuk mengembalikan energi setelah tubuh tidak menerima asupan makanan dan minuman selama lebih dari 12 jam.
Salah satu kekhawatiran utama saat berbuka adalah lonjakan gula darah yang terlalu cepat, karena kondisi ini dapat memicu rasa lemas, mengantuk, bahkan meningkatkan risiko gangguan metabolik dalam jangka panjang.
Dalam konteks ini, buah naga sering dianggap sebagai pilihan ideal untuk mengawali berbuka puasa.
Tapi, apakah benar buah naga sehat untuk menjaga kestabilan gula darah?
Secara ilmiah, buah naga memiliki indeks glikemik (glycemic index/GI) yang tergolong rendah hingga sedang, yaitu sekitar 48–52.
Indeks glikemik adalah ukuran seberapa cepat makanan meningkatkan kadar gula darah.
Semakin rendah angkanya, semakin lambat kenaikan gula darah yang terjadi.
Artinya, mengonsumsi buah naga saat berbuka cenderung tidak menyebabkan lonjakan gula darah drastis dibandingkan makanan tinggi gula sederhana seperti sirup, gorengan manis, atau minuman berpemanis buatan.
Selain itu, buah naga kaya akan serat, terutama serat larut. Serat ini berfungsi memperlambat penyerapan glukosa di usus, sehingga gula dilepaskan secara bertahap ke dalam aliran darah.
Efek ini sangat penting setelah puasa, karena tubuh sedang berada dalam kondisi sensitif terhadap insulin.
Penyerapan gula yang terlalu cepat dapat memicu lonjakan insulin mendadak, yang kemudian diikuti penurunan gula darah drastis.
Inilah penyebab rasa lemas setelah berbuka dengan makanan manis berlebihan.
Keunggulan lain buah naga adalah kandungan antioksidan seperti betalain dan vitamin C.
Antioksidan membantu mengurangi stres oksidatif, yaitu kondisi di mana terjadi ketidakseimbangan antara radikal bebas dan kemampuan tubuh menetralisirnya.
Stres oksidatif sering meningkat saat tubuh mengalami perubahan metabolik drastis, termasuk saat berbuka puasa.
Buah naga juga mengandung air dalam jumlah tinggi, sekitar 85–90 persen.
Kandungan air ini membantu rehidrasi tubuh secara bertahap tanpa membebani sistem pencernaan.
Dibandingkan langsung mengonsumsi makanan berat, memulai dengan buah naga memberi waktu bagi sistem pencernaan untuk “bangun” secara perlahan setelah beristirahat panjang.
Namun, penting untuk memahami bahwa manfaat ini akan optimal jika buah naga dikonsumsi dalam bentuk utuh, bukan jus yang ditambahkan gula.
Proses penghancuran menjadi jus dapat mempercepat penyerapan gula karena struktur seratnya rusak. Selain itu, porsi tetap perlu diperhatikan.
Konsumsi berlebihan, bahkan dari buah sehat, tetap dapat meningkatkan asupan gula total.
Secara keseluruhan, buah naga merupakan pilihan yang sangat baik untuk mengawali berbuka puasa.
Kombinasi indeks glikemik rendah, kandungan serat tinggi, antioksidan, dan kadar air yang melimpah menjadikannya makanan ideal untuk menstabilkan gula darah dan mempersiapkan tubuh menerima makanan berikutnya.
Dalam bahasa sederhana, buah naga membantu tubuh “menyalakan mesin” secara halus, bukan menekan pedal gas secara mendadak.
