Header Ads Widget


Es jus sering dianggap simbol gaya hidup sehat. Buah diblender, ditambah es, selesai. 

Terlihat segar, berwarna cerah, dan terasa “alami”. 

Masalahnya, sesuatu yang tampak sehat belum tentu memberi dampak yang sama seperti bentuk aslinya. 

Buah utuh dan es jus adalah dua pengalaman biologis yang berbeda bagi tubuh.

Pada dasarnya, buah memang makanan sehat. Kaya serat, vitamin, mineral, dan antioksidan. 

Namun ketika sudah berubah menjadi es jus, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan secara ilmiah.

-00-

Pertama, tambahan susu dan gula. Banyak es jus di pasaran bukan sekadar buah dan air. 

Ada gula cair, susu kental manis, sirup, bahkan topping tambahan. 

Gula tambahan meningkatkan beban glukosa yang masuk ke darah secara cepat. 

Tubuh merespons dengan lonjakan insulin. Jika ini terjadi berulang, sensitivitas insulin bisa menurun. 

Dalam jangka panjang, risiko resistensi insulin dan gangguan metabolik meningkat. 

Susu kental manis sendiri tinggi gula sederhana. Jadi yang kita minum bukan lagi “jus buah”, tapi campuran gula cair dengan aroma buah.

-00-

Kedua, kondisi buah yang mungkin sudah tidak segar. Di gerai jus yang sibuk, buah sering dipotong lebih awal lalu disimpan. 

Proses ini meningkatkan paparan oksigen dan bakteri lingkungan. Vitamin tertentu, terutama vitamin C, mudah teroksidasi. 

Artinya kandungannya bisa menurun sebelum sempat masuk ke tubuh. 

Buah yang mulai terlalu matang juga memiliki kadar gula lebih tinggi dan indeks glikemik yang meningkat. 

Secara kasat mata mungkin masih tampak bagus, tapi kualitas nutrisinya bisa berbeda.

-00-

Ketiga, tambahan es. Air batu tidak selalu bersih secara mikrobiologis jika sumber airnya tidak higienis. 

Selain itu, suhu sangat dingin dapat memperlambat kerja enzim pencernaan sementara waktu. 

Pada sebagian orang, minuman sangat dingin dapat memicu kram lambung atau gangguan pencernaan ringan. 

Tubuh sebenarnya harus mengeluarkan energi tambahan untuk menyesuaikan suhu cairan yang masuk agar kembali ke suhu internal sekitar 37°C. 

Tidak berbahaya dalam konteks sesekali, tetapi bukan tanpa efek.

-00-

Keempat, kerusakan struktur buah akibat diblender halus. Ini bagian yang jarang dibahas. Saat buah diblender, seratnya terfragmentasi. 

Serat utuh berfungsi memperlambat penyerapan gula di usus. Ketika dihancurkan sangat halus, efek perlambatan ini berkurang. 

Gula alami buah menjadi lebih cepat terserap. Hasilnya, respons gula darah lebih tinggi dibandingkan saat makan buah dalam bentuk utuh. 

Selain itu, proses oksidasi meningkat karena luas permukaan buah yang terekspos udara lebih besar.

Ada juga faktor psikologis. Minum jus lebih cepat daripada mengunyah buah. Dalam lima menit, seseorang bisa menghabiskan jus dari tiga sampai empat potong buah. 

Jika dimakan utuh, jumlah itu mungkin membuat kenyang sebelum habis. Artinya, kalori yang masuk bisa lebih banyak tanpa terasa.

Apakah ini berarti es jus harus dihindari total? Tidak sesederhana itu. Konteks dan komposisi sangat menentukan. 

Es jus tanpa gula tambahan, tanpa susu manis, menggunakan buah segar, dan dikonsumsi sesekali masih bisa menjadi pilihan. 

Namun, menjadikannya kebiasaan harian dengan tambahan gula adalah cerita berbeda.

Tubuh manusia bukan sekadar mesin pencerna rasa segar. Ia merespons detail kecil yang sering kita anggap sepele. 

Jadi lain kali melihat segelas es jus warna-warni, ingat bahwa yang terlihat sehat belum tentu bekerja sama dengan metabolisme sebaik yang kita kira. 

Sains selalu mengajak kita melihat lebih dalam dari sekadar tampilan.

Post a Comment

Kasih koment di sini bro, met nikmatin isi blognya ya, keep safety