Header Ads Widget



Ada cowok yang badannya seperti mesin diesel boros bensin: makan masuk, energi langsung dibakar, lemak nyaris tak sempat parkir. 

Metabolisme cepat sering dijadikan kambing hitam kenapa berat badan susah naik. Tapi kenapa bisa begitu? Jawabannya tidak sesimpel “bawaan lahir”, meski gen memang ikut main.

Metabolisme cepat biasanya berkaitan dengan aktivitas sel yang tinggi

Di level mikroskopis, sel-sel tubuh—terutama sel otot—lebih aktif menggunakan energi untuk bertahan hidup. 

Otot adalah jaringan yang mahal secara energi. Cowok dengan massa otot relatif lebih tinggi, meski terlihat kurus, cenderung membakar lebih banyak kalori bahkan saat diam. 

Tubuhnya seperti laptop yang kipasnya nyala terus.

Peran hormon tiroid juga krusial. Hormon ini mengatur kecepatan tubuh membakar energi. Tiroid yang aktif membuat detak metabolisme naik, suhu tubuh sedikit lebih hangat, dan kebutuhan energi meningkat. 

Orang dengan fungsi tiroid optimal sering merasa cepat lapar, tapi berat badannya stagnan. Ini bukan sulap, ini biologi.

Genetik memberi fondasi awal. Beberapa orang secara genetik punya lebih banyak mitokondria, yaitu “pembangkit listrik” di dalam sel. 

Semakin banyak mitokondria, semakin besar kapasitas pembakaran energi. Jadi walau menunya sama, hasil akhirnya bisa jauh berbeda. 

Tubuh bukan fotokopi, tiap orang punya spesifikasi pabrik sendiri.

Di luar metabolisme basal, ada faktor yang sering diremehkan tapi efeknya brutal: NEAT (Non-Exercise Activity Thermogenesis)

Ini adalah energi yang terbakar dari aktivitas kecil di luar olahraga formal. Contohnya kelihatan sepele, tapi kalau dijumlahkan bisa setara satu sesi gym.

Contoh NEAT yang umum: sering berdiri dan jalan kecil alih-alih duduk lama, kaki yang otomatis goyang saat duduk, kebiasaan mondar-mandir saat telepon, naik tangga tanpa mikir, atau refleks beresin barang tanpa disuruh. 

Ada juga yang suka gestur berlebihan saat ngobrol—tangan ke sana ke mari, badan ikut bergerak. Semua itu membakar kalori.

Cowok dengan metabolisme cepat biasanya juga punya NEAT tinggi. Mereka tidak bisa diam lama, tubuhnya seperti punya mode “aktif default”. 

Tanpa sadar, mereka membakar ratusan kalori ekstra setiap hari. Itulah kenapa makan banyak tetap terasa “tidak nempel”.

Metabolisme cepat bukan mitos. Ia hasil kerja sama gen, hormon, massa otot, dan kebiasaan gerak kecil yang konsisten. 

Untuk melawan kondisi ini, strateginya bukan cuma nambah porsi, tapi mengatur asupan padat kalori dan—ironisnya—kadang justru perlu belajar lebih tenang. 

Tubuhmu bukan rusak, cuma terlalu rajin bekerja.

Post a Comment

Kasih koment di sini bro, met nikmatin isi blognya ya, keep safety