Pernah lihat fenomena alam yang agak nyebelin: satu cowok makan nasi dua piring, gorengan lima, es manis segelas, tapi badannya tetap kayak tiang listrik.
Di sisi lain, ada yang baru lihat martabak lewat Instagram saja berat badan langsung naik. Ini bukan kutukan, juga bukan konspirasi semesta. Ada penjelasan ilmiahnya.
Faktor paling utama adalah metabolisme basal. Ini adalah jumlah energi yang dibakar tubuh saat diam, alias saat kamu rebahan sambil mikir masa depan.
Cowok dengan metabolisme tinggi membakar kalori lebih cepat bahkan tanpa olahraga berat.
Jadi kalori yang masuk keburu habis sebelum sempat disimpan jadi lemak.
Pada cowok dengan metabolisme lambat, cerita berbeda: kalori lebih betah menginap dan berubah jadi cadangan energi di pinggang.
Genetik juga ikut nimbrung. Struktur tubuh, jumlah serat otot, hingga respons hormon sangat dipengaruhi faktor keturunan.
Jika dari sananya tubuh condong ke tipe ektomorf (kurus, tulang kecil, lemak minim), menaikkan berat badan memang butuh perjuangan ekstra.
Sementara tipe endomorf cenderung menyimpan lemak lebih mudah, bahkan dengan pola makan yang terlihat “biasa saja”.
Lalu ada urusan hormon, terutama insulin dan tiroid. Hormon tiroid yang aktif membuat pembakaran energi lebih cepat.
Sebaliknya, sensitivitas insulin yang tinggi memudahkan tubuh menyimpan kelebihan gula menjadi lemak.
Dua cowok bisa makan menu sama, tapi respon tubuhnya sangat berbeda.
Tubuh bukan kalkulator; ia lebih mirip ekosistem yang punya aturan sendiri.
Aktivitas fisik non-olahraga juga sering diremehkan. Ada cowok yang kelihatannya santai, tapi sebenarnya gelisah: banyak bergerak, mondar-mandir, kaki goyang tanpa sadar.
Ini disebut NEAT (Non-Exercise Activity Thermogenesis), pembakar kalori diam-diam yang efeknya nyata.
Cowok dengan NEAT tinggi bisa membakar ratusan kalori ekstra per hari tanpa sadar.
Terakhir, kualitas makan sering menipu. “Makan banyak” belum tentu “kalori cukup”.
Porsi besar tapi rendah kalori—misalnya dominan sayur, kuah, atau makanan cepat kenyang—bisa bikin tubuh tetap defisit energi.
Sebaliknya, porsi kecil tapi padat kalori mudah bikin berat badan naik pelan tapi konsisten.
Intinya, susah atau gampang gemuk bukan soal malas atau rakus. Itu kombinasi metabolisme, genetik, hormon, pola gerak, dan kualitas asupan.
Tubuh tiap cowok punya aturan main sendiri. Melawannya bisa, tapi perlu strategi—bukan sekadar nambah nasi sambil berharap keajaiban terjadi.
