Header Ads Widget



Banyak orang menyamakan bau badan dengan aroma tubuh. Padahal, secara ilmiah dan sosial, keduanya beda kelas. 

Yang satu bikin orang menjauh pelan-pelan, yang satu lagi justru bisa bikin orang betah lebih lama. Bedanya tipis di hidung, tapi jauh di makna.

Bau badan adalah hasil interaksi keringat dengan bakteri, terutama di area lembap seperti ketiak, selangkangan, dan kaki. 

Keringat sebenarnya tidak berbau. Masalah muncul ketika bakteri memecah protein dan lemak dalam keringat, menghasilkan senyawa volatil seperti asam butirat dan amonia.

Inilah sumber bau menyengat yang sering dianggap mengganggu. 

Faktor pemicunya jelas: kebersihan kurang terjaga, pakaian jarang diganti, stres berlebih, makanan tertentu, dan gangguan metabolik.

Sebaliknya, aroma tubuh adalah bau alami yang lebih halus, khas, dan sering kali tidak disadari pemiliknya. 

Aroma ini dipengaruhi oleh genetika, hormon, pola makan, dan gaya hidup. 

Pada pria, hormon testosteron berperan besar dalam membentuk aroma tubuh melalui kelenjar apokrin. 

Di sinilah sains mulai menarik: aroma tubuh bukan sekadar bau, tapi sinyal biologis.

Penelitian di bidang biologi evolusi dan psikologi menunjukkan bahwa aroma tubuh dapat berfungsi sebagai penanda kecocokan genetik. 

Tubuh manusia mampu “mencium” perbedaan sistem imun (MHC) secara tidak sadar. 

Aroma yang dianggap menarik sering kali berasal dari individu dengan sistem imun yang berbeda, karena secara evolusioner itu menguntungkan untuk keturunan. 

Romantis? Tidak. Biologis? Sangat.

Di konteks maskulinitas, aroma tubuh pria yang bersih dan natural sering diasosiasikan dengan kedewasaan, dominasi tenang, dan kepercayaan diri. 

Bukan bau keringat basi, tapi aroma tubuh yang tidak ditutup berlebihan oleh parfum. 

Itulah sebabnya banyak produk parfum pria justru dirancang untuk “menyatu” dengan aroma alami, bukan menenggelamkannya.

Masalah muncul ketika aroma tubuh tertutup oleh bau badan. Di titik ini, daya tarik turun drastis. 

Bukan karena maskulinitas hilang, tapi karena sinyal biologisnya rusak oleh faktor kebersihan dan gaya hidup.


-00-

Badan adalah gangguan, aroma tubuh adalah identitas. Yang satu perlu dihilangkan, yang satu perlu dijaga. Maskulinitas bukan soal wangi mahal, tapi soal tubuh yang sehat, bersih, dan jujur pada sinyal alaminya. Selebihnya, biologi akan bekerja sendiri.

Post a Comment

Kasih koment di sini bro, met nikmatin isi blognya ya, keep safety