Selamat Datang di Nara Kata Media

Sajian Sastra, Budaya, dan Pemikiran Kritis

Perjaka kampung


Telanjang Bareng

Weekend itu aku memutuskan untuk pulang ke desa. Setelah sebulan penuh dikepung macet dan AC ruangan, rasanya perlu sekali menghirup udara yang masih berbau tanah dan daun. 

Aku tiba di rumah nenek sore hari, dan keesokan paginya langsung jalan kaki menuju mbelik di ujung desa.

Mbelik itu bukan kolam biasa. Mata airnya keluar dari sela-sela batu besar, airnya jernih dan dingin menusuk tulang. 

Di sekelilingnya tumbuh pohon-pohon rindang yang membuat tempat itu selalu teduh. 

Dulu, waktu kecil, aku sering mandi di sana bersama teman-teman. Tapi sekarang, kukira hanya orang-orang tua saja yang masih menggunakan tempat itu. 

Anak muda zaman sekarang lebih memilih kamar mandi ber-shower dan air panas.

Aku sampai di tepi mbelik sekitar pukul tujuh pagi. Suara air yang terus mengalir terdengar sangat tenang. 

Aku sudah membuka kaos dan mau melepas celana ketika tiba-tiba mendengar suara orang bergerak di balik semak.

“Eh, ada orang,” gumamku pelan.

Dari balik pohon kenari muncul seorang pemuda. Rambutnya agak gondrong, kulitnya sawo matang karena sering terkena matahari. Kami saling pandang sebentar.

“Arham?” tanyaku ragu.

Dia mengangguk, lalu tersenyum tipis. “Kamu… yang dulu sering main di sini, kan? Lama nggak ketemu.”

Kami seumuran. Dulu dia lebih sering ikut ayahnya ke sawah daripada main bola di lapangan. 

Sekarang tubuhnya sudah jauh berbeda. Saat dia melepas kaos, aku sempat menahan napas. 

Perutnya rata, semi kotak-kotak, lengan atasnya berotot meski jelas-jelas dia bukan orang yang pernah masuk gym. Tubuhnya terbentuk dari kerja fisik sehari-hari. 

Estetik sekali. Anak desa memang keren natural kayak gini.

Arham tidak ragu melepas semua pakaiannya. Dia mandi telanjang, sesuatu yang di desa ini masih biasa. 

Tidak ada rasa malu, tidak ada rasa aneh. Air mbelik memang selalu seperti itu—tempat di mana orang-orang sudah terbiasa dengan tubuh mereka sendiri.

Aku sempat ragu. Awalnya aku hanya ingin mandi sambil tetap memakai boxer. Tapi melihat Arham yang sudah berdiri di tengah genangan air dengan tenang, aku merasa konyol kalau masih malu-malu. Akhirnya aku melepas semuanya juga.

Airnya dingin sekali. Begitu tubuhku masuk, seluruh kulitku merinding. Tapi setelah beberapa detik, rasa segar itu menyebar. 

Mata air yang terus mengalir membuat genangan di sekitar batu tetap jernih. Aku mencelupkan kepala, membiarkan air menyentuh kulit kepala dan wajah. 

Di atas, daun-daun pohon bergoyang pelan ditiup angin pagi.

Arham berdiri tidak jauh dariku. Tubuhnya basah, tetesan air mengalir di sepanjang punggung dan dada. 

Penisnya masih layu, mungkret karena dinginnya air. Tidak ada yang aneh. Di tempat ini, tubuh dibiarkan apa adanya.

Kami tidak banyak bicara. Kadang saling lempar candaan kecil tentang masa kecil, tentang siapa yang dulu paling sering kepleset di batu licin. 

Selebihnya kami hanya menikmati air dan keheningan.

Aku duduk di atas batu yang agak datar, membiarkan air mengalir di sekitar pinggang. 

Pepohonan di sekeliling mbelik membuat cahaya matahari hanya menembus sedikit-sedikit. Bayangan daun bergoyang di permukaan air. 

Aku menarik napas dalam-dalam. Bau tanah basah, bau daun, dan dinginnya mata air bercampur menjadi satu.

“Enak, kan?” kata Arham sambil mengusap wajahnya.

Aku mengangguk. “Lebih enak dari yang kukira.”

Kami bertahan di sana hampir satu jam. Tidak ada buru-buru. Tidak ada notifikasi yang harus dibalas. 

Hanya dua orang yang seumuran, berdiri telanjang di bawah pohon-pohon tua, membiarkan tubuh mereka dibersihkan oleh air yang sudah mengalir di tempat itu sejak lama sebelum mereka lahir.

Ketika akhirnya kami keluar dan mengenakan kembali pakaian, udara pagi sudah mulai hangat. 

Arham mengangguk singkat sebelum berjalan pulang ke arah sawah. Aku berdiri sebentar di tepi mbelik, menatap kembali genangan air yang sudah kembali tenang.

Weekend di desa ternyata masih bisa memberikan sesuatu yang tidak bisa dibeli di kota: rasa segar yang benar-benar murni, dan kebebasan untuk sekadar menjadi diri sendiri tanpa banyak pertimbangan.